Diundang sebagai penanggap pada seminar ”Rating Publik (II): Menuju
Televisi Keluarga”, Rabu (3/12) di Jakarta, aktor dan sutradara Deddy
Mizwar (53) yang terlambat datang dan belum sempat membaca laporan
penelitian Yayasan SET soal rating itu mengaku tak paham benar soal
rating.
”Saya tidak paham rating dan metodenya, tapi mungkin
diperlukan. Apalagi ada lembaga lain yang melihatnya dari sisi lain,”
ujarnya.
Sebelumnya, sinetron religius yang disutradarai Deddy,
Para Pencari Tuhan, berdasarkan riset Yayasan SET bekerja sama dengan
IJTI, Yayasan Tifa, dan Jaringan Masyarakat Pemerhati Televisi di 11
kota, dinilai responden/panelis sebagai program hiburan paling
berkualitas. Persentasenya 43,4 persen.
Apa komentarnya? Sekali
lagi Deddy menegaskan tak paham rating. Baginya, yang penting adalah
bagaimana membuat program (sinetron) yang bisa dipertanggungjawabkan
dunia-akhirat.
Membuat acara yang bagus, parameternya hanyalah
asumsi-asumsi belaka. ”Namun, menyampaikan kebenaran adalah kewajiban
setiap umat beragama,” ujarnya.
Ia juga tak ingin membuat
sinetron kejar tayang atau sesuai pesanan. ”Seniman itu tak bisa
bekerja sesuai pesanan,” kata Deddy yang senang bila program yang dia
buat dinilai bagus dan banyak ditonton pemirsa.