Gosip Artis dan Selebriti

Arsip untuk ‘Pembawa Acara’ Kategori

Model Presenter Nila Sari Melahirkan Anak

In Model, Pembawa Acara on Agustus 30, 2009 at 8:09 am

Kalau berjumpa dengan Sari Nila, model yang dikenal sebagai presenter itu, kita akan mendengar antusiasmenya menceritakan anaknya. ”Namanya Gavyn Mahesa Zacharias. Umurnya dua bulan,” kata Sari Nila mengenai putra pertamanya itu.

Diceritakannya, untuk memberi ketenangan kepada anaknya, sang bayi sering tidur di atas dadanya. ”Menyenangkan kok punya anak. Saya tidak memakai baby sitter. Saya ingin seperti ibu-ibu kita zaman dulu. Mereka mengasuh sendiri bayinya dan menghasilkan anak-anak pintar kayak kita,” cerita wanita yang menyenangkan ini dengan sumringah.

Pada Kamis (27/8) malam dia menjadi pembawa acara pembukaan Bazaar Art di Pacific Place, Jakarta. ”Ya, saya mulai lagi aktivitas menjadi presenter di O Channel,” kata Sari menyebut nama stasiun televisi. ”Selain itu juga menjadi MC kalau ada yang minta, asalkan mereka mau dengan badan saya yang gemuk,” katanya sembari tertawa.

Memang beratnya berapa?

”Dulu berat badan saya 53 kilogram. Lalu naik menjadi 74, sekarang turun menjadi 68,” ucapnya sambil tertawa.

Sang bayi pasti sangat nyaman tidur di atas ibunya….

Hesty Purwadinata Berusaha “Cool” Agar Disayang Penonton

In Pemain Film, Pembawa Acara on November 3, 2008 at 2:17 am

Pembawa acara televisi yang menjadi pendatang baru di dunia akting,
Hesty Purwadinata, mengaku masih terbawa karakter cool dari peran yang
dibawakannya dalam film Cintaku Selamanya. Di film itu, ia menjadi
Shinta yang pendiam dan ”dingin” terhadap cowok.

Cintaku
Selamanya merupakan film pertama Hesty. Walau ia hanya mendapatkan
peran pendukung dalam film hasil revisi dari ML (Mau Lagi…!) itu,
tapi banyak orang memberi apresiasi positif terhadap kemampuan
aktingnya.

Adegan yang membuatnya ”total”, bukan marah atau menangis, tapi karena ia bisa memainkan karakter mahasiswi yang cool.

”Peran
ini termasuk ’berat’ karena aku harus tampil beda dengan sehari-harinya
aku yang sebenarnya rame,” kata perempuan kelahiran Bogor, 15 Juni 1983.

Walau film ini merupakan kesempatan pertamanya, Hesty mengaku, ia bisa menolak tawaran peran yang tak sesuai dengan harapannya.

”Saya masih bisa negosiasi. Bersama dengan manajemen saya, kami bisa memilih pakaian yang saya tentukan sendiri,” katanya.

Negosiasi
ini perlu dia lakukan karena film ini—walau disebut sarat dengan
pendidikan seks— di sana-sini banyak menampilkan adegan seksi. Oleh
karena itulah, kategori film ini untuk usia 17 tahun ke atas.

Ingrid Widjanarko Kini Merambah Dunia Lain Dengan Menulis Novel

In Pembawa Acara on Oktober 24, 2008 at 5:24 am

Empat bulan terakhir, pembawa acara dan penulis Ingrid Widjanarko (49) sibuk merampungkan sebuah novel. Judulnya? ”Belum ada. Nanti ditentukan belakangan,” ujar Ingrid, Rabu (22/10) di Jakarta.

Novel tersebut, kata Ingrid, bercerita tentang arti persahabatan dua orang, laki-laki dan perempuan. Persahabatan itu diwarnai perasaan cinta. Namun, perasaan itu harus dipendam demi mempertahankan persahabatan.

Ingrid ingin novelnya bisa diterbitkan akhir tahun 2008. Kalau tidak terkejar, novel tersebut diusahakan terbit tahun 2009.

”Doain ya, supaya novelnya cepat selesai,” kata dia.

Sebelumnya, Ingrid telah meluncurkan dua buku fiksi, yakni Surat untuk Rumput (2004) dan Sex And The Cookies (2006), serta buku kumpulan puisi tokoh-tokoh terkenal berjudul Kebebasan (2007).

Buku-buku itu umumnya dia siapkan di tengah kesibukan yang seabrek sebagai pembawa acara, penulis untuk majalah, pengajar di sekolah public speaking, pengelola event organizer, dan pemain film.

Ketika ditemui Rabu sore itu, Ingrid sedang menghadiri syukuran persiapan shooting film Lastri garapan Eros Djarot. Dia juga terlibat dalam film ini.

”Ya, cuma cameo-lah (tampil sebentar),” ujar Ingrid tentang penampilannya dalam Lastri.

Doa Yang Mengancam Aming Kelihatan Berbeda

In Pemain Film, Pemain Sinetron, Pembawa Acara on Oktober 9, 2008 at 3:27 am

Jangan kaget kalau melihat Aming (27) di film layar lebar terbarunya, Doa Yang Mengancam. ”Gue kelihatan bedaaaa banget, serius lhooo,” katanya saat dihubungi Rabu (8/10).

Jangan-jangan, memang itulah Aming yang asli? ”Hmmm… gimana yah, gue tuh orangnya santai tapi cepat serius,” tukas bintang Extravaganza ini.

Sehari menjelang pemutaran perdana filmnya yang akan tayang tanggal 9 Oktober ini, Aming mengaku tidak grogi.

Menurut dia, yang penting sudah bisa menjawab, bagaimana perkembangan dirinya setelah film Get Married dan Quickie Express. Kalaupun ada pertanyaan, mungkin soal mengubah image yah, Ming?

”Ehhh, sorry… gue sih enggak pake image-image kayak gitu. Buat gue, semua karakter yang gue perankan, yah, dalam rangka gue belajar,” kata pria yang lahir di Jakarta, 7 November 1980 ini.

Dalam film tersebut, ceritanya Aming menjadi seorang kuli di pasar yang, walaupun hidupnya susah, tetap optimistis. Setelah ada masalah, dia berdoa mengancam Tuhan. Eh, malah disambar geledek.

”Habis itu malah jadi punya kemampuan tambahan melihat masa depan,” kata Aming yang mengaku kaget melihat gambar-gambar unik dalam film besutan sutradara Hanung Bramantyo itu.

Bagi Edi Brokoli Hidup Adalah Patungan

In Pembawa Acara on September 17, 2008 at 2:13 pm

Pembawa acara Edi Brokoli (31) bercerita, sebagai panitia Youth Park Fest, ia tak pusing lagi. Walau uang untuk menutup utang acara itu, sebesar Rp 345 juta, belum cukup, beban itu dipikul bersama antara panitia Youth Park Fest, Bandung Creative City Forum (BCCF), dan Helarfest.

Utang itu muncul gara-gara pentas musik Youth Park Fest di GOR Saparua, Bandung, pada 30 Agustus lalu, dihentikan polisi pada pukul 17.00 dari jadwal seharusnya sampai pukul 23.00.

Padahal, acara penutupan Helarfest, festival kreativitas di Bandung tersebut, amat mengandalkan pemasukan dari penjualan tiket karena tak ada sponsor.

”Kata polisi waktu itu, acara harus dihentikan sebab esok harinya SBY (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) mau datang ke acara pernikahan di kawasan itu. Jadilah, kami disuruh bubar. Padahal, pemberitahuan adanya acara ini sebenarnya sudah diterima polisi jauh hari sebelumnya,” cerita Edi.

Untuk menutup utang itulah, panitia pun berinisiatif menjual t-shirt bertuliskan ”Hidup adalah Udunan”, atau hidup adalah urunan.

”Ya sudahlah, yang penting, pas acara itu dibubarin anak-anak (penonton) pada mau ngerti, enggak rusuh. Duit sih bisa dicari. Tapi, kalau sampai rusuh, buat jangka panjangnya kan jadi sulit kalau kita mau bikin event lagi di Bandung,” kata penyanyi kelahiran Bandung ini.

Trie Utami Menikmati Peran Sebagai Juri Dalam Kontes Dangdut Indonesia KDI

In Pembawa Acara, Penyanyi on Agustus 8, 2008 at 2:04 pm
Lama tak tampil menyanyi di layar kaca, Trie Utami (40) makin menikmati perannya sebagai juri Kontes Dangdut TPI (KDI). Trie Utami yang dulu dikenal sebagai vokalis Krakatau itu, kini lebih banyak berperan sebagai pembimbing calon-calon penyanyi yang akan meramaikan industri musik dangdut Tanah Air.

”Mungkin memang harus ada yang ambil peran itu. Sekarang aku lebih banyak duduk jadi pendamping anak-anak muda. Tentu untuk memilih yang terbaik,” kata penyanyi yang akrab dipanggil Iie ini.

Dia percaya, dari sekian banyak calon penyanyi yang mengikuti ajang KDI, ada bibit bagus yang layak jadi penyanyi. ”Yang bagus-bagus inilah yang harus didampingi supaya lebih terarah,” kata pencetak hit ”Kau Datang” ini.

Selain mendampingi calon-calon penyanyi, Iie juga laris diundang ke sejumlah tempat. ”Acara-acara off-air masih banyak. Satu bulan enam-delapan kali aku manggung,” kata Iie.

Sayang, waktu ditanya kapan reuni dengan Krakatau, Iie menjawab belum tahu. ”Soalnya yang satu udah ke mana, yang lainnya ke mana. Kalau ada yang mau ngumpulin sih oke-oke aja,” kata Iie yang juga tergabung dalam kelompok Rumpies bersama penyanyi Vina Panduwinata, Atiek CB, dan Malyda.

Effendi Gazali Lebih Tertata Setelah Menikah

In Pembawa Acara on Agustus 7, 2008 at 1:23 pm
Enak mana menikah atau men-jomblo? ”Enak menikah dong. Setelah menikah, rasanya hidup jadi lebih tertata,” kata pengamat komunikasi dari Universitas Indonesia (UI), Effendi Gazali, di Jakarta, Rabu (6/8) sore.

Tema manfaat pernikahan memang masih hangat-hangatnya bagi doktor komunikasi politik dari Radboud University, Nijmegen, Belanda, itu. Maklum, dia baru saja mengakhiri masa jomblo-nya selama 42 tahun ini.

Lelaki itu menikahi Hikmah Febriani Ali Alatas (24), perempuan berdarah campuran Sunda-Arab, di Jakarta, 27 Juli 2008.

Apakah perkawinan membawa ketenteraman batin? ”Wah, kami kan baru menikah. Time will tell, waktu yang akan membuktikan nanti,” katanya bersemangat.

Penggiat acara parodi politik Republik BBM dan Newsdotcom itu bercerita, hari pernikahannya berlangsung pada minggu yang sama dengan Kelik Pelipur Lara (41), salah satu pengisi acara parodi politik di televisi.

Jika resepsi ”Dik Fendi” 27 Juli, Kelik pada 21 Juli. Padahal, dua lelaki yang berbeda usia satu tahun itu tidak pernah janjian.

”Kami berdua sudah dianggap jomblo lama. Eh ternyata, ketika akhirnya kami menikah, waktu resepsinya terjadi dalam minggu yang sama. Usia istri pun sama-sama muda, sekitar 24 tahun,” kata Effendi tertawa.

Aming Menangis Tersedu Sedu Setelah Itu Tertawa Terbahak Bahak

In Pemain Sinetron, Pembawa Acara, Penyanyi, Sosialita on Agustus 6, 2008 at 3:37 pm
Dua film terbaru yang dibintangi Aming (28), Gara-Gara Bola dan Doa yang Mengancam, akan diputar di bioskop dalam waktu yang hampir bersamaan.

”Pokoknya (kedua film tersebut) diputar setelah Lebaran,” ujarnya.

Aming rupanya lebih tertarik membahas tentang perannya dalam Doa yang Mengancam. Katanya, perannya dalam film itu sama sekali enggak ada lucu-lucunya dan ”menyeramkan”.

”Di sini peranku sebagai sosok tipikal kaum marjinal. Shooting-nya menguras energi, emosi, dan mental,” ujar bintang acara Extravaganza di Trans TV ini.

”Bayangkan, ada adegan aku berdiri di puncak gedung, terus aku harus melihat ke bawah sambil melempar-lempar duit. Gila kan?” lanjut Aming.

Lalu, sewaktu shooting di Karawang, Jawa Barat, dari matahari terbit sampai tenggelam, ia harus melakoni adegan berlari-lari sampai terjatuh-jatuh di alang-alang.

”Aku sampai enggak tidur,” cerita Aming.

Ia masih menyambung lagi dengan bersemangat, ”Di pasar aku panggul karung beras. Lalu, aku berjalan di rel kereta bertelanjang kaki. Adegannya memang menangis sepanjang waktu. Aku sampai benar-benar nangis karena capai lahir batin. Eh, begitu mau take, ambil gambar untuk adegan aku harus menangis malah air mataku sudah kering ha-ha-ha…”

Julia Perez Dicium dan Diremas Payudaranya Didepan Umum

In Pemain Film, Pemain Sinetron, Pembawa Acara on Juli 17, 2008 at 5:27 am
Artis seksi Julia Perez dapat pesta kejutan di ulang tahunnya yang ke-28 dari sang suami, Damien Perez dan keluarganya. Seusai syuting adegan mandi untuk film terbarunya, Sumpah (ini) Pocong, Jupe_begitu dia disapa, tiba-tiba dia dilabarak suami dan kerabat dekatnya. Jupe pun mendapat ciuman hot dari Damien.

Terhitung sekitar 15 ciuman hot berakhir dengan diremasnya payudara yang dilakukan Jupe dengan suaminya di depan kru film dan para wartawan.

“Kalau cium Damien in front of people, aku nggak pernah malu untuk ungkapin perasaanku di depan orang kalau aku cinta sama Damien. Aku sayang Damien. I’m really,really,really falling in love with him,” kata Jupe saat jumpa pers di Jl. Sirsak Gedung Baru No.2, Jagakarsa, Jakarta, Selasa (15/7) dini hari

Cathy Sharon Menikmati Komedi

In Pembawa Acara on Juli 2, 2008 at 5:13 am
Mantan video jockey MTV, Catherine Sharon Gasnier atau Cathy Sharon, makin menikmati keterlibatannya dalam acara komedi Extravaganza yang ditayangkan TransTV. Padahal, saat ditawari bermain dalam acara itu, pemain film horor Bangku Kosong ini sempat bimbang.

”Aku sempat merasa aneh (ditawari main komedi), tapi aku melihat tawaran ini sebagai kesempatan. Ya akhirnya aku ambil, kebetulan waktu itu kegiatanku lagi monoton,” kata gadis kelahiran Jakarta, 8 Oktober 1982, ini.

Cathy yang berdarah campuran Perancis-Manado-Tionghoa ini mengawali karier di dunia hiburan sebagai model. Ia lalu muncul dalam sejumlah film televisi (FTV), seperti Jejak Kupu-Kupu, juga menjadi pembawa acara.

Sebagai ”anak baru” di dunia komedi, ia punya cara menimba ilmu dari para ”senior”. ”Aku banyak ngobrol dengan lawan main untuk cari chemistry. Kami juga sering jalan dan meluangkan waktu bareng sebelum shooting. Biarpun ini acara komedi, tapi tetap dikerjakan serius,” katanya.

Ia bercerita, bersama adik kandungnya yang juga model dan pemain film, Julia Estelle, dia berencana membuka kembali usaha baju mereka yang sempat tak terurus. Cathy yang juga bermain dalam sinetron Cewek Penakluk ini pun punya rencana membuka kafe di Bandung, Jawa Barat.

Meuthia Kasim Ingin Kuliah Sambil Buat Film

In Pembawa Acara on April 26, 2008 at 7:41 pm
Pada pemberian penghargaan Tribute to Women di Plaza Semanggi, Selasa (22/4), ada sosok di kursi roda yang membuat orang bertanya-tanya. Dialah Meuthia Kasim (40) yang wajahnya pernah begitu dikenal sebagai salah satu juri Indonesian Idol. Ia ”menghilang” sejak sakit pada pertengahan 2005.

Meuthia Kasim yang biasa dipanggil Mukas ini sempat mendapat julukan ”Ratu Radio”. Ini karena Mukas mengawali karier sebagai penyiar radio dan sukses pula membidani lahirnya beberapa stasiun radio yang kini berkibar, seperti Hard Rock FM dan i-Radio. Namanya juga tak lepas dari saluran televisi O Channel.

Mukas menerima penghargaan tersebut sebab ia dianggap bisa memberi inspirasi kepada wanita Indonesia. Ia tabah menghadapi cobaan, penyakit yang menghentikan total semua kegiatannya selama bertahun-tahun.

Mukas tidak ”meleleh”, dan ia tetap fokus pada rencananya, sambil dengan disiplin menjalani semua proses penyembuhan.

”Semua ini saya anggap musibah. Kita harus menghadapinya. Jadi, ya dijalani saja,” kata Mukas yang tetap optimistis walau gaya bicaranya tak lagi meledak-ledak.

”Saya pengin segera kembali pada kehidupan normal. Saya ingin kuliah lagi di fakultas hukum. Saya juga ingin bikin film,” tambahnya tentang rencananya dalam waktu dekat.

Bisnis Mimpi Memberi Keuntungan Hingga 140 Milyar Buat TV Swasta. Para Finalis Kebanyakan Jatuh Miskin

In Atlet, Pemain Film, Pemain Sinetron, Pembawa Acara, Penulis, Penyanyi, Raja Ratu on April 6, 2008 at 1:57 am
Dalam lima tahun terakhir, stasiun televisi berlomba-lomba menggelar acara kontes menyanyi dan idola-idolaan yang pemenangnya ditentukan dengan jumlah SMS. Mengapa itu dilakukan? Jawabnya: kontes seperti itu adalah bisnis besar yang melibatkan banyak pemilik modal.

“Kalau tidak menguntungkan, tidak mungkin RCTI memproduksi Indonesian Idol sampai lima kali,” ujar Daniel Hartono, Project Director Indonesian Idol, Jumat (4/4) di Jakarta. Dia tidak bersedia merinci berapa keuntungan yang diraih dari acara itu.

Namun, kita bisa menghitung secara kasar berapa uang yang bisa diputar oleh acara seperti Indonesian Idol. Menurut Daniel, dalam satu musim kontes, jumlah total SMS yang masuk berkisar 6 juta-7 juta. SMS ini berjenis premium dengan tarif Rp 2.000. Dengan demikian, uang yang berputar dari SMS saja mencapai Rp 12 miliar-Rp 14 miliar per musim kontes.

Uang tersebut memang tidak seluruhnya masuk ke kantong stasiun televisi. Menurut Daniel, uang yang terkumpul dari SMS harus dibagi ke pemegang format acara dan merek Idol, yakni Freemantle, content provider (CP), dan operator seluler. Bagaimana pembagiannya? Daniel tidak bersedia menjelaskan.

Adita Irawati, Division Head Public Relation Indosat, memberi gambaran, biasanya operator seluler bekerja sama dengan CP untuk bisnis SMS bertarif premium. Operator menyediakan jaringan, sedangkan CP mengisi jaringan tersebut dengan program acara, kuis, atau permainan. Nah, biasanya CP bekerja sama lagi dengan penyelenggara acara termasuk televisi.

Dalam kerja sama antara operator dan CP, pembagian keuntungan ditentukan berdasarkan kelas perjanjian. Untuk Kelas A, CP memperoleh 65 persen, sedangkan operator 35 persen. Untuk Kelas B, CP 60 persen, operator 40 persen. Untuk Kelas C, keuntungan dibagi sama besar. Adita tidak tahu pasti bagaimana perjanjian pembagian keuntungan untuk acara-acara kontes menyanyi di televisi.

Keuntungan yang dibagi, lanjut Adita, adalah keuntungan tarif premium setelah dikurangi tarif dasar SMS sebesar Rp 350. Dengan demikian, jika tarif SMS premium adalah Rp 2.000, uang yang dibagi antara CP dan operator adalah Rp 1.650 per SMS. Untuk acara idola-idolaan, porsi keuntungan yang diperoleh CP masih harus dibagi lagi kepada stasiun televisi dan pihak lain.

Daniel mengatakan, sebenarnya SMS hanya menyumbang 5 persen-10 persen dari seluruh keuntungan yang diperoleh Indonesian Idol. Keuntungan terbesar tetap diperoleh dari iklan. Nah, untuk acara Indonesian Idol, okupansi iklan rata-rata mencapai 100 persen atau 18 menit dari setiap durasi acara satu jam.

“Bisnis mimpi”

Karena acara-acara semacam ini bisa menggerakkan modal dalam jumlah besar, tidak heran jika stasiun televisi berlomba-lomba memproduksi kontes-kontes serupa. Setelah sukses dengan Indonesian Idol, misalnya, RCTI menggelar Idola Cilik dan Saatnya Jadi Idola. TPI menggelar KDI, Dangdut Mania, dan Dangdut Mania Dadakan. Indosiar, dulu, menggelar AFI dan AFI Junior. Bahkan, ada televisi yang mengonteskan pemilihan pembantu rumah tangga untuk dipekerjakan di rumah seorang artis sinetron.

Seiring dengan makin banyaknya acara semacam ini, semakin gencar dan luas pula stasiun televisi dalam menyebarkan hasrat untuk terkenal dan kaya raya secara instan. Hafni Sari Damayanti, Media Relation RCTI, mengatakan, audisi Indonesian Idol 2008 dilakukan di 15 kota, sebelumnya hanya di sembilan kota. Tahun ini, pencarian peserta audisi bahkan dilakukan ke sekolah-sekolah, markas tentara, hingga warung internet.

Hasrat untuk terkenal juga disebarkan dengan cara menampilkan pemenang kontes di atas panggung musik yang gemerlap juga sinetron. Penyelenggara memotret kehidupan pemenang kontes yang berubah dari miskin menjadi kaya raya. Selanjutnya, kisah dan drama kehidupan para peserta itu ditayangkan sebagai bagian dari keseluruhan acara kontes idola-idolaan.

Hasilnya sungguh luar biasa. Puluhan hingga ratusan ribu orang histeris untuk mengikuti audisi. Puluhan juta pemirsa televisi hanyut menyaksikan drama kontes. Mimpi pun berubah menjadi sebuah kebutuhan. Ketika itulah, penyelenggara kontes tinggal menarik keuntungan.

Ini memang bisnis dengan mimpi sebagai komoditasnya.

Baca Juga

Kisah Selebriti Gagal – Korban Keserakahan TV Swasta

Kisah Selebriti Gagal … Korban Mimpi dan Keserakahan Stasiun TV

In Pemain Film, Pemain Sinetron, Pembawa Acara, Penulis, Penyanyi on Maret 30, 2008 at 5:12 pm
Setahun yang lalu, hampir setiap akhir pekan, Muhammad alias Ian Kasolo (39) tampil di televisi sebagai ”selebriti” yang tampak glamor. Kini, dia terpaksa bekerja serabutan sebagai pengantar makanan di sebuah usaha katering rumahan.

Ini bukan cerita sinetron, namun sebuah kisah nyata. Ian Kasolo yang dulu sempat menjadi ikon acara kontes menyanyi Dangdut Mania I di stasiun TPI bersama Siti Pijat, Ju pri Asong, dan Agus Kenek, kini jauh dari dunia glamor. Hidupnya bisa dibilang terkatung-katung tanpa pekerjaan dan uang.

Kini, Ian menumpang di rumah Ucok Koki yang juga peserta Dangdut Mania I. Di rumah ini, dia membantu istri Ucok yang menjalankan usaha katering rumahan. Setiap pukul 05.00, Ian bangun dan membantu memasak. Sekitar pukul 07.00, dia keliling mengantarkan rantang berisi makanan pesanan ke pelanggan. ”Ya, beginilah kegiatan saya. Yang penting saya punya tempat berteduh dan bisa makan,” ujar Ian. Sebelum ditampung di rumah Ucok Koki, Ian sempat menggelandang dan tidak makan dua hari karena tidak mempunyai uang.

Bagaimana kehidupan Ian berubah drastis dalam setahun? Semua ini bermula ketika Ian melihat iklan kontes menyanyi yang seolah-olah bisa menyulap siapa saja menjadi artis terkenal dengan cepat. Ian yang merasa punya bakat menyanyi dangdut dan akting memutuskan ikut salah satu kontes itu. Pilihannya jatuh ke acara Dangdut Mania I.

Singkat cerita, bujangan asal Solo, Jawa Tengah, itu lolos audisi dengan menyingkirkan ribuan peserta dan berhak mengikuti kontes di Jakarta. Karena mimpi menjadi artis begitu besar, pemuda lulusan SMA ini rela meninggalkan pekerjaan tetap sebagai kurir di bank swasta di Solo yang memberinya penghasilan sekitar Rp 1 juta per bulan.

Awalnya semua berjalan sesuai mimpi. Di Jakarta, Ian dan 19 peserta Dangdut Mania lainnya diperlakukan layaknya artis. Produser Dangdut Mania I mengubah nama Muhammad menjadi Ian Kasolo karena wajahnya dianggap mirip vokalis band Radja, Ian Kasela. Penampilannya pun dipermak. Rambutnya dicat kuning acak. Dia juga diberi kostum dan kaca mata hitam seperti yang biasa dikenakan Ian Kasela. ”Kami juga diperlakukan seperti raja. Kami tinggal di sebuah vila. Mau makan di restoran mana saja tinggal bilang,” ujar Ian mengenang.

Kemewahan semacam itu baru pertama kali Ian rasakan. Pasalnya, kehidupan Ian selama di Solo jauh dari mewah. Dia tinggal berjejalan di sebuah rumah petak berukuran 3 x 4 meter persegi bersama ibu, kakak, dan seorang keponakan.

Pengalaman bersentuhan dengan kemewahan itulah yang membuat Ian semakin bertekad untuk menjadi artis terkenal dan dia merasa pintu itu terbuka baginya. ”Bayangkan, setiap kali saya nyanyi, orang- orang memanggil nama saya. Ketika promosi, orang rebutan minta tanda tangan dan foto saya. Saya juga masuk koran,” kata Ian yang terkenal dengan ”goyang suster ngesot”.

Ian makin berbunga-bunga ketika mendengar isu pemenang Dangdut Mania I akan dikontrak menjadi artis TPI. ”Saya semakin bertekad memenangi kontes ini. Karena itu, tiap minggu saya ngebom SMS,” katanya.

Ngebom SMS yang dimaksud adalah mengirim SMS sebanyak-banyaknya untuk dirinya sendiri agar perolehan suaranya terdongkrak. ”Saya bisa menghabiskan uang Rp 5 juta untuk beli voucher pulsa telepon setiap minggu. Kalau ditotal, selama acara ini saya habis Rp 30 juta,” kata Ian yang memperoleh uang sebanyak itu dari pinjaman keluarga dan lintah darat.

Hal itu dilakukan juga peserta lain. Ida Nyonya mengaku menghabiskan Rp 20 juta untuk ngebom. Hasilnya, nihil. Ian dan Ida akhirnya tereliminasi juga. ”Kalau tahu jadinya begini, saya tidak akan menghabiskan uang jutaan. Sekarang terkenal tidak, terlilit utang iya,” ujar Ian.

Manajer Humas TPI Theresia Ellasari mengatakan, pihaknya telah berkali-kali berpesan kepada peserta kontes menyanyi agar tidak usah berlomba mengirim SMS untuk dirinya sendiri. ”Itu tidak ada gunanya sebab pemenang ditentukan SMS kiriman pemirsa yang jumlahnya jutaan,” katanya.

Korban mimpi

Harapan menjadi artis terkenal sempat muncul lagi ketika Ian diajak TPI main sinetron, menyanyi pada acara off air dan jadi bintang iklan dengan bayaran Rp 500.000-Rp 1.500.000. Namun, setelah itu masa-masa manis menjadi selebriti benar-benar berakhir. Tidak ada lagi order manggung dari TPI.

Setelah itu, Ian kadang ikut manggung di kampung-kampung bersama Ucok Koki atau Pardi Hallo, peserta Dangdut Mania I yang sekarang menjadi penyelenggara konser dangdut kecil-kecilan. Bayaran yang diterima Ian sekitar Rp 100.000-Rp 200.000 sekali tampil. Namun, order seperti ini tidak selalu datang tiap minggu.

”Saya sempat frustrasi dan mau bunuh diri. Mau pulang ke Solo saya malu karena keluarga dan teman-teman sudah telanjur menganggap saya sebagai artis sukses yang banyak duit,” katanya.

Nasib serupa juga dialami Jupriadi alias Jupri Asong dan Ida Nyonya. Jupri mengaku, setelah menjadi juara II Dangdut Mania I, dia berhenti mengasong. ”Kata teman-teman, saya tidak pantas lagi mengasong sebab saya sudah jadi artis,” ujarnya.

Jupri Asong pun mencoba mengandalkan hidup dengan menyanyi. Namun, undangan menyanyi belum tentu muncul satu bulan sekali dengan bayaran paling besar Rp 500.000. ”Akhirnya, uang hadiah yang jumlahnya sekitar Rp 28 juta habis untuk makan keluarga. Sekarang saya benar-benar miskin. Mau ngasong lagi, saya tidak punya modal,” ujar Jupri yang harus menghidupi istri dan tiga anaknya.

Kini, Jupri berniat menjual rumah tipe 21 miliknya di Tangerang yang merupakan harta dia satu-satunya saat ini. Uangnya akan digunakan untuk modal berdagang lagi. ”Saya benar-benar kapok ikut acara semacam ini. Saya kira, pemenangnya akan diorbitkan jadi artis.”

Theresia mengatakan, TPI tak pernah berjanji mengorbitkan peserta Dangdut Mania I menjadi artis. ”Kami hanya memberi kesempatan kepada mereka untuk tampil di televisi. Kalau mereka disukai penonton dan kemudian jadi artis, itu adalah bonus,” katanya.

Ya, inilah drama dari sebuah kebudayaan instan yang terus direproduksi televisi melalui kontes menyanyi, idola-idolaan, mama-mamaan, dan juga sinetron. Sebuah kebudayaan yang selalu memberikan mimpi bahwa sukses dan popularitas bisa diperoleh dalam waktu singkat.

Sialnya, karena gempuran mimpi-mimpi itu kian gencar, banyak orang tidak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang nyata. Kisah Ian Kasolo, Jupri Asong, dan Ida Nyonya hanyalah contoh kecil.

Rina Gunawan Mengurus Rumah

In Pembawa Acara on Maret 18, 2008 at 4:59 pm
Menjadi ibu rumah tangga menuntut pembawa acara Rina Gunawan (33) bisa mengurus rumah. Hal ini termasuk soal mencuci pakaian yang dilakukan pembantunya.”Kalau musim hujan, soal cucian biasanya bikin repot. Pakaian enggak kering dan suka berbau apek. Saya menyiasatinya dengan menyuruh Mbak (pembantunya) memakai pengharum pakaian,” ujar Rina di sela-sela acara promosi Molto Ultra di Jakarta akhir pekan lalu.Istri pemain sinetron Teddy Syach ini menambahkan, ia telah menggunakan pengharum pakaian itu jauh hari sebelum ditunjuk sebagai Duta Molto.

Belakangan, ibu dari Aqshal Ilham Syach (8) dan Karnisya Rahma Syach (4) ini disibukkan dengan kehadiran Andy dan Lily, tokoh suami-istri yang membawa citra produk pengharum pakaian itu.

”Pasangan itu digambarkan saling mendukung dalam rumah tangga. Alhamdulillah, saya dan suami juga begitu,” ujar Rina yang juga sibuk mengelola perusahaan pengatur acara itu.

Selain berusaha membuat segala urusan di rumah beres, sesekali Rina mendukung Teddy dengan menemaninya di lokasi pengambilan gambar