Gosip Artis dan Selebriti

Arsip untuk ‘Penulis’ Kategori

Hamsad Rangkuti Mendapat Penghargaan Sastra Dari Raja Thailand

In Penulis on November 6, 2008 at 1:41 am

Kenangan dari Thailand belum sempat ditulis, sastrawan Hamsad Rangkuti (65) kembali mendapat penghargaan sastra. ”Hanya Nobel Sastra yang belum Abang dapatkan,” kata Hamsad yang biasa dipanggil Abang berkelakar.

Pada Kongres IX Bahasa Indonesia, pekan lalu, ia—lewat kumpulan cerpen Bibir dalam Pispot— meraih Penghargaan Kesastraan Pusat Bahasa. Sebelumnya, 30 September 2008, ia mendapat penghargaan sastra SEA Write Award dari Raja Thailand.

Kumpulan cerpen Bibir dalam Pispot (2003) sebelumnya juga mendapatkan penghargaan Khatulistiwa Literary Award, yang menghantarkan Abang dan istri, Nurwindasari, berkeliling London, Inggris, serta mengikuti Pertemuan Penulis Dunia dan London Book Fair pada 2004.

Memang punya ide menulis cerpen berlatar Thailand?

Si Abang bercerita, ”Ada satu pemandangan dari meja makan kami di tepi sungai. Eceng gondok hanyut setiap kami makan. Saya pikir, lama-lama eceng gondok itu bisa. Ini pasti rekayasa.”

Hamsad ditemani istri dan putranya, Anggi Mauli, lalu berperahu untuk mencari tahu. Ternyata, eceng gondok itu memang dihanyutkan, lalu dikumpulkan kembali, begitu berulang-ulang. Rupanya, eceng gondok menjadi penghias sungai untuk dipandang para turis di hotel

Ayu Utami Selalu Turun Dari Mobil Untuk Berhujan Ria Karena Sangat Mencintai Hujan Yang Romantis

In Penulis on September 2, 2008 at 3:44 pm

Penulis novel Ayu Utami (40) baru setengah jam berkeliling di Kampung Seni Lerep, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, ketika rintik hujan turun, akhir pekan lalu. Belum lama ia berteduh di bawah jembatan kayu, hujan bertambah deras. Alih-alih menggerutu terkena hujan, Ayu malah mengungkapkan kegembiraannya.

”Aku selalu senang hujan, kecuali kalau membayangkan orang yang kena banjir,” ungkap Ayu yang didaulat mengulas novel terbarunya, Bilangan Fu**, di Kampung Seni Lerep.

Dia menikmati harmoni suara yang tercipta di kampung seni yang bersuasana pedesaan ini. Suara hujan menerpa atap jembatan penyeberangan dari daun kelapa kering, bercampur dengan bunyi aliran di kali kecil di bawah jembatan kayu itu. Pendar cahaya lampu taman yang terkena bias air hujan menambah keasrian suasana.

”Kalau hujan aku selalu ingat kampung halaman, Bogor, yang sekarang alamnya sudah rusak. Aku juga ingat momen menyenangkan sewaktu tidur kelelahan di dalam mobil dan hujan turun deras. Pendar cahaya yang berbalur hujan sangat romantis,” ungkapnya bersemangat.

Tak malu-malu, Ayu mengaku selalu ingin berada di tengah hujan tanpa perlindungan atap. Aduh, apa enggak takut sakit ya main hujan-hujanan?

Hidup Ini Buka Melulu Soal Kekuasaan Dan Kekayaan

In Penulis on Agustus 8, 2008 at 2:05 pm
Masa tugas Ali Mufiz sebagai Gubernur Jawa Tengah berakhir 23 Agustus 2008. Rencananya, pria kelahiran Jepara, 21 Juli 1944, ini kembali ke kampus. Sebelum menjadi gubernur, ia mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro, Semarang, sejak 1975.

”Setelah berhenti menjadi gubernur, saya ingin beristirahat dulu. Yah, sekitar dua mingguan,” kata Ali di kantornya, Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Kamis (7/8).

Banyak orang heran mengetahui dia tak berminat mendaftar untuk pemilihan gubernur lalu, padahal ia punya peluang. Kekuasaan ada, ketenaran pun punya.

”Hidup ini bukan melulu kekuasaan. Tiap hari banyak partai melamar, meminta saya menjadi calon legislatif. Saya tinggal pilih mau nomor berapa. Jawaban saya, tidak. Saya tak mau mendaftar menjadi caleg,” tegasnya.

Ali malah mau menulis buku tentang manajemen pemimpin daerah. Dia pun berniat menyusun buku anekdot gubernur.

”Saya dilantik, Sabtu. Senin saya ke kantor dan spontan memanggil seseorang dengan suara keras. Tiba-tiba protokoler menegur saya. Katanya, sebagai gubernur saya tak boleh berteriak dan memanggil seseorang begitu saja. Saya harus memerintahkan ajudan dan ajudan yang memanggil orang itu. Hal yang mudah jadi sulit,” ungkapnya.

Hal itu terdengar lucu sekaligus mencerminkan betapa birokrasi mengekang dirinya

Bisnis Mimpi Memberi Keuntungan Hingga 140 Milyar Buat TV Swasta. Para Finalis Kebanyakan Jatuh Miskin

In Atlet, Pemain Film, Pemain Sinetron, Pembawa Acara, Penulis, Penyanyi, Raja Ratu on April 6, 2008 at 1:57 am
Dalam lima tahun terakhir, stasiun televisi berlomba-lomba menggelar acara kontes menyanyi dan idola-idolaan yang pemenangnya ditentukan dengan jumlah SMS. Mengapa itu dilakukan? Jawabnya: kontes seperti itu adalah bisnis besar yang melibatkan banyak pemilik modal.

“Kalau tidak menguntungkan, tidak mungkin RCTI memproduksi Indonesian Idol sampai lima kali,” ujar Daniel Hartono, Project Director Indonesian Idol, Jumat (4/4) di Jakarta. Dia tidak bersedia merinci berapa keuntungan yang diraih dari acara itu.

Namun, kita bisa menghitung secara kasar berapa uang yang bisa diputar oleh acara seperti Indonesian Idol. Menurut Daniel, dalam satu musim kontes, jumlah total SMS yang masuk berkisar 6 juta-7 juta. SMS ini berjenis premium dengan tarif Rp 2.000. Dengan demikian, uang yang berputar dari SMS saja mencapai Rp 12 miliar-Rp 14 miliar per musim kontes.

Uang tersebut memang tidak seluruhnya masuk ke kantong stasiun televisi. Menurut Daniel, uang yang terkumpul dari SMS harus dibagi ke pemegang format acara dan merek Idol, yakni Freemantle, content provider (CP), dan operator seluler. Bagaimana pembagiannya? Daniel tidak bersedia menjelaskan.

Adita Irawati, Division Head Public Relation Indosat, memberi gambaran, biasanya operator seluler bekerja sama dengan CP untuk bisnis SMS bertarif premium. Operator menyediakan jaringan, sedangkan CP mengisi jaringan tersebut dengan program acara, kuis, atau permainan. Nah, biasanya CP bekerja sama lagi dengan penyelenggara acara termasuk televisi.

Dalam kerja sama antara operator dan CP, pembagian keuntungan ditentukan berdasarkan kelas perjanjian. Untuk Kelas A, CP memperoleh 65 persen, sedangkan operator 35 persen. Untuk Kelas B, CP 60 persen, operator 40 persen. Untuk Kelas C, keuntungan dibagi sama besar. Adita tidak tahu pasti bagaimana perjanjian pembagian keuntungan untuk acara-acara kontes menyanyi di televisi.

Keuntungan yang dibagi, lanjut Adita, adalah keuntungan tarif premium setelah dikurangi tarif dasar SMS sebesar Rp 350. Dengan demikian, jika tarif SMS premium adalah Rp 2.000, uang yang dibagi antara CP dan operator adalah Rp 1.650 per SMS. Untuk acara idola-idolaan, porsi keuntungan yang diperoleh CP masih harus dibagi lagi kepada stasiun televisi dan pihak lain.

Daniel mengatakan, sebenarnya SMS hanya menyumbang 5 persen-10 persen dari seluruh keuntungan yang diperoleh Indonesian Idol. Keuntungan terbesar tetap diperoleh dari iklan. Nah, untuk acara Indonesian Idol, okupansi iklan rata-rata mencapai 100 persen atau 18 menit dari setiap durasi acara satu jam.

“Bisnis mimpi”

Karena acara-acara semacam ini bisa menggerakkan modal dalam jumlah besar, tidak heran jika stasiun televisi berlomba-lomba memproduksi kontes-kontes serupa. Setelah sukses dengan Indonesian Idol, misalnya, RCTI menggelar Idola Cilik dan Saatnya Jadi Idola. TPI menggelar KDI, Dangdut Mania, dan Dangdut Mania Dadakan. Indosiar, dulu, menggelar AFI dan AFI Junior. Bahkan, ada televisi yang mengonteskan pemilihan pembantu rumah tangga untuk dipekerjakan di rumah seorang artis sinetron.

Seiring dengan makin banyaknya acara semacam ini, semakin gencar dan luas pula stasiun televisi dalam menyebarkan hasrat untuk terkenal dan kaya raya secara instan. Hafni Sari Damayanti, Media Relation RCTI, mengatakan, audisi Indonesian Idol 2008 dilakukan di 15 kota, sebelumnya hanya di sembilan kota. Tahun ini, pencarian peserta audisi bahkan dilakukan ke sekolah-sekolah, markas tentara, hingga warung internet.

Hasrat untuk terkenal juga disebarkan dengan cara menampilkan pemenang kontes di atas panggung musik yang gemerlap juga sinetron. Penyelenggara memotret kehidupan pemenang kontes yang berubah dari miskin menjadi kaya raya. Selanjutnya, kisah dan drama kehidupan para peserta itu ditayangkan sebagai bagian dari keseluruhan acara kontes idola-idolaan.

Hasilnya sungguh luar biasa. Puluhan hingga ratusan ribu orang histeris untuk mengikuti audisi. Puluhan juta pemirsa televisi hanyut menyaksikan drama kontes. Mimpi pun berubah menjadi sebuah kebutuhan. Ketika itulah, penyelenggara kontes tinggal menarik keuntungan.

Ini memang bisnis dengan mimpi sebagai komoditasnya.

Baca Juga

Kisah Selebriti Gagal – Korban Keserakahan TV Swasta

Kisah Selebriti Gagal … Korban Mimpi dan Keserakahan Stasiun TV

In Pemain Film, Pemain Sinetron, Pembawa Acara, Penulis, Penyanyi on Maret 30, 2008 at 5:12 pm
Setahun yang lalu, hampir setiap akhir pekan, Muhammad alias Ian Kasolo (39) tampil di televisi sebagai ”selebriti” yang tampak glamor. Kini, dia terpaksa bekerja serabutan sebagai pengantar makanan di sebuah usaha katering rumahan.

Ini bukan cerita sinetron, namun sebuah kisah nyata. Ian Kasolo yang dulu sempat menjadi ikon acara kontes menyanyi Dangdut Mania I di stasiun TPI bersama Siti Pijat, Ju pri Asong, dan Agus Kenek, kini jauh dari dunia glamor. Hidupnya bisa dibilang terkatung-katung tanpa pekerjaan dan uang.

Kini, Ian menumpang di rumah Ucok Koki yang juga peserta Dangdut Mania I. Di rumah ini, dia membantu istri Ucok yang menjalankan usaha katering rumahan. Setiap pukul 05.00, Ian bangun dan membantu memasak. Sekitar pukul 07.00, dia keliling mengantarkan rantang berisi makanan pesanan ke pelanggan. ”Ya, beginilah kegiatan saya. Yang penting saya punya tempat berteduh dan bisa makan,” ujar Ian. Sebelum ditampung di rumah Ucok Koki, Ian sempat menggelandang dan tidak makan dua hari karena tidak mempunyai uang.

Bagaimana kehidupan Ian berubah drastis dalam setahun? Semua ini bermula ketika Ian melihat iklan kontes menyanyi yang seolah-olah bisa menyulap siapa saja menjadi artis terkenal dengan cepat. Ian yang merasa punya bakat menyanyi dangdut dan akting memutuskan ikut salah satu kontes itu. Pilihannya jatuh ke acara Dangdut Mania I.

Singkat cerita, bujangan asal Solo, Jawa Tengah, itu lolos audisi dengan menyingkirkan ribuan peserta dan berhak mengikuti kontes di Jakarta. Karena mimpi menjadi artis begitu besar, pemuda lulusan SMA ini rela meninggalkan pekerjaan tetap sebagai kurir di bank swasta di Solo yang memberinya penghasilan sekitar Rp 1 juta per bulan.

Awalnya semua berjalan sesuai mimpi. Di Jakarta, Ian dan 19 peserta Dangdut Mania lainnya diperlakukan layaknya artis. Produser Dangdut Mania I mengubah nama Muhammad menjadi Ian Kasolo karena wajahnya dianggap mirip vokalis band Radja, Ian Kasela. Penampilannya pun dipermak. Rambutnya dicat kuning acak. Dia juga diberi kostum dan kaca mata hitam seperti yang biasa dikenakan Ian Kasela. ”Kami juga diperlakukan seperti raja. Kami tinggal di sebuah vila. Mau makan di restoran mana saja tinggal bilang,” ujar Ian mengenang.

Kemewahan semacam itu baru pertama kali Ian rasakan. Pasalnya, kehidupan Ian selama di Solo jauh dari mewah. Dia tinggal berjejalan di sebuah rumah petak berukuran 3 x 4 meter persegi bersama ibu, kakak, dan seorang keponakan.

Pengalaman bersentuhan dengan kemewahan itulah yang membuat Ian semakin bertekad untuk menjadi artis terkenal dan dia merasa pintu itu terbuka baginya. ”Bayangkan, setiap kali saya nyanyi, orang- orang memanggil nama saya. Ketika promosi, orang rebutan minta tanda tangan dan foto saya. Saya juga masuk koran,” kata Ian yang terkenal dengan ”goyang suster ngesot”.

Ian makin berbunga-bunga ketika mendengar isu pemenang Dangdut Mania I akan dikontrak menjadi artis TPI. ”Saya semakin bertekad memenangi kontes ini. Karena itu, tiap minggu saya ngebom SMS,” katanya.

Ngebom SMS yang dimaksud adalah mengirim SMS sebanyak-banyaknya untuk dirinya sendiri agar perolehan suaranya terdongkrak. ”Saya bisa menghabiskan uang Rp 5 juta untuk beli voucher pulsa telepon setiap minggu. Kalau ditotal, selama acara ini saya habis Rp 30 juta,” kata Ian yang memperoleh uang sebanyak itu dari pinjaman keluarga dan lintah darat.

Hal itu dilakukan juga peserta lain. Ida Nyonya mengaku menghabiskan Rp 20 juta untuk ngebom. Hasilnya, nihil. Ian dan Ida akhirnya tereliminasi juga. ”Kalau tahu jadinya begini, saya tidak akan menghabiskan uang jutaan. Sekarang terkenal tidak, terlilit utang iya,” ujar Ian.

Manajer Humas TPI Theresia Ellasari mengatakan, pihaknya telah berkali-kali berpesan kepada peserta kontes menyanyi agar tidak usah berlomba mengirim SMS untuk dirinya sendiri. ”Itu tidak ada gunanya sebab pemenang ditentukan SMS kiriman pemirsa yang jumlahnya jutaan,” katanya.

Korban mimpi

Harapan menjadi artis terkenal sempat muncul lagi ketika Ian diajak TPI main sinetron, menyanyi pada acara off air dan jadi bintang iklan dengan bayaran Rp 500.000-Rp 1.500.000. Namun, setelah itu masa-masa manis menjadi selebriti benar-benar berakhir. Tidak ada lagi order manggung dari TPI.

Setelah itu, Ian kadang ikut manggung di kampung-kampung bersama Ucok Koki atau Pardi Hallo, peserta Dangdut Mania I yang sekarang menjadi penyelenggara konser dangdut kecil-kecilan. Bayaran yang diterima Ian sekitar Rp 100.000-Rp 200.000 sekali tampil. Namun, order seperti ini tidak selalu datang tiap minggu.

”Saya sempat frustrasi dan mau bunuh diri. Mau pulang ke Solo saya malu karena keluarga dan teman-teman sudah telanjur menganggap saya sebagai artis sukses yang banyak duit,” katanya.

Nasib serupa juga dialami Jupriadi alias Jupri Asong dan Ida Nyonya. Jupri mengaku, setelah menjadi juara II Dangdut Mania I, dia berhenti mengasong. ”Kata teman-teman, saya tidak pantas lagi mengasong sebab saya sudah jadi artis,” ujarnya.

Jupri Asong pun mencoba mengandalkan hidup dengan menyanyi. Namun, undangan menyanyi belum tentu muncul satu bulan sekali dengan bayaran paling besar Rp 500.000. ”Akhirnya, uang hadiah yang jumlahnya sekitar Rp 28 juta habis untuk makan keluarga. Sekarang saya benar-benar miskin. Mau ngasong lagi, saya tidak punya modal,” ujar Jupri yang harus menghidupi istri dan tiga anaknya.

Kini, Jupri berniat menjual rumah tipe 21 miliknya di Tangerang yang merupakan harta dia satu-satunya saat ini. Uangnya akan digunakan untuk modal berdagang lagi. ”Saya benar-benar kapok ikut acara semacam ini. Saya kira, pemenangnya akan diorbitkan jadi artis.”

Theresia mengatakan, TPI tak pernah berjanji mengorbitkan peserta Dangdut Mania I menjadi artis. ”Kami hanya memberi kesempatan kepada mereka untuk tampil di televisi. Kalau mereka disukai penonton dan kemudian jadi artis, itu adalah bonus,” katanya.

Ya, inilah drama dari sebuah kebudayaan instan yang terus direproduksi televisi melalui kontes menyanyi, idola-idolaan, mama-mamaan, dan juga sinetron. Sebuah kebudayaan yang selalu memberikan mimpi bahwa sukses dan popularitas bisa diperoleh dalam waktu singkat.

Sialnya, karena gempuran mimpi-mimpi itu kian gencar, banyak orang tidak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang nyata. Kisah Ian Kasolo, Jupri Asong, dan Ida Nyonya hanyalah contoh kecil.

Putu Wijaya Dilanda Kegelisahan Dunia Teater

In Penulis on Maret 24, 2008 at 4:07 pm
Putu Wijaya rupanya menyimpan kegelisahan pada persaingan di dunia teater. Persaingan yang dia maksud bukan adu kreatif antar kelompok teater, tetapi antara dunia teater dan ”teater” lain seperti infotainment, berita kriminal, hingga aneka jenis pendidikan di masyarakat yang makin membuat orang enggan berpikir.

”Banyak siaran televisi yang disajikan bukan pada jam tayang seharusnya. Akibatnya, siapa saja dengan mudah bisa melihat penyiksaan yang seakan-akan makin sadis itu makin baik,” tutur Putu yang lahir di Tabanan, Bali, 11 April 1944, itu.

”Kalau di teater, adegan pemukulan, penyiksaan, atau darah itu pura-pura, dibuat-buat. Nah, dalam tayangan televisi hal itu lebih menarik karena darahnya betulan. Rupanya itulah yang disukai masyarakat sekarang,” kata Putu yang memimpin Teater Mandiri.

Penulis sekitar 30 novel ini juga mengkritik media massa yang dinilainya punya andil melanggengkan eksistensi pesaing teater itu.

Apakah ia cemas penonton teater akan berkurang?

”Teater itu menyajikan ruang untuk berpikir. Ruang refleksi yang selama ini susah didapatkan orang. Mungkin, penonton (teater) tidak banyak, tetapi mereka berpikir,” jawabnya.