Monthly Archives: Maret 2008

Kisah Selebriti Gagal … Korban Mimpi dan Keserakahan Stasiun TV

Setahun yang lalu, hampir setiap akhir pekan, Muhammad alias Ian Kasolo (39) tampil di televisi sebagai ”selebriti” yang tampak glamor. Kini, dia terpaksa bekerja serabutan sebagai pengantar makanan di sebuah usaha katering rumahan.

Ini bukan cerita sinetron, namun sebuah kisah nyata. Ian Kasolo yang dulu sempat menjadi ikon acara kontes menyanyi Dangdut Mania I di stasiun TPI bersama Siti Pijat, Ju pri Asong, dan Agus Kenek, kini jauh dari dunia glamor. Hidupnya bisa dibilang terkatung-katung tanpa pekerjaan dan uang.

Kini, Ian menumpang di rumah Ucok Koki yang juga peserta Dangdut Mania I. Di rumah ini, dia membantu istri Ucok yang menjalankan usaha katering rumahan. Setiap pukul 05.00, Ian bangun dan membantu memasak. Sekitar pukul 07.00, dia keliling mengantarkan rantang berisi makanan pesanan ke pelanggan. ”Ya, beginilah kegiatan saya. Yang penting saya punya tempat berteduh dan bisa makan,” ujar Ian. Sebelum ditampung di rumah Ucok Koki, Ian sempat menggelandang dan tidak makan dua hari karena tidak mempunyai uang.

Bagaimana kehidupan Ian berubah drastis dalam setahun? Semua ini bermula ketika Ian melihat iklan kontes menyanyi yang seolah-olah bisa menyulap siapa saja menjadi artis terkenal dengan cepat. Ian yang merasa punya bakat menyanyi dangdut dan akting memutuskan ikut salah satu kontes itu. Pilihannya jatuh ke acara Dangdut Mania I.

Singkat cerita, bujangan asal Solo, Jawa Tengah, itu lolos audisi dengan menyingkirkan ribuan peserta dan berhak mengikuti kontes di Jakarta. Karena mimpi menjadi artis begitu besar, pemuda lulusan SMA ini rela meninggalkan pekerjaan tetap sebagai kurir di bank swasta di Solo yang memberinya penghasilan sekitar Rp 1 juta per bulan.

Awalnya semua berjalan sesuai mimpi. Di Jakarta, Ian dan 19 peserta Dangdut Mania lainnya diperlakukan layaknya artis. Produser Dangdut Mania I mengubah nama Muhammad menjadi Ian Kasolo karena wajahnya dianggap mirip vokalis band Radja, Ian Kasela. Penampilannya pun dipermak. Rambutnya dicat kuning acak. Dia juga diberi kostum dan kaca mata hitam seperti yang biasa dikenakan Ian Kasela. ”Kami juga diperlakukan seperti raja. Kami tinggal di sebuah vila. Mau makan di restoran mana saja tinggal bilang,” ujar Ian mengenang.

Kemewahan semacam itu baru pertama kali Ian rasakan. Pasalnya, kehidupan Ian selama di Solo jauh dari mewah. Dia tinggal berjejalan di sebuah rumah petak berukuran 3 x 4 meter persegi bersama ibu, kakak, dan seorang keponakan.

Pengalaman bersentuhan dengan kemewahan itulah yang membuat Ian semakin bertekad untuk menjadi artis terkenal dan dia merasa pintu itu terbuka baginya. ”Bayangkan, setiap kali saya nyanyi, orang- orang memanggil nama saya. Ketika promosi, orang rebutan minta tanda tangan dan foto saya. Saya juga masuk koran,” kata Ian yang terkenal dengan ”goyang suster ngesot”.

Ian makin berbunga-bunga ketika mendengar isu pemenang Dangdut Mania I akan dikontrak menjadi artis TPI. ”Saya semakin bertekad memenangi kontes ini. Karena itu, tiap minggu saya ngebom SMS,” katanya.

Ngebom SMS yang dimaksud adalah mengirim SMS sebanyak-banyaknya untuk dirinya sendiri agar perolehan suaranya terdongkrak. ”Saya bisa menghabiskan uang Rp 5 juta untuk beli voucher pulsa telepon setiap minggu. Kalau ditotal, selama acara ini saya habis Rp 30 juta,” kata Ian yang memperoleh uang sebanyak itu dari pinjaman keluarga dan lintah darat.

Hal itu dilakukan juga peserta lain. Ida Nyonya mengaku menghabiskan Rp 20 juta untuk ngebom. Hasilnya, nihil. Ian dan Ida akhirnya tereliminasi juga. ”Kalau tahu jadinya begini, saya tidak akan menghabiskan uang jutaan. Sekarang terkenal tidak, terlilit utang iya,” ujar Ian.

Manajer Humas TPI Theresia Ellasari mengatakan, pihaknya telah berkali-kali berpesan kepada peserta kontes menyanyi agar tidak usah berlomba mengirim SMS untuk dirinya sendiri. ”Itu tidak ada gunanya sebab pemenang ditentukan SMS kiriman pemirsa yang jumlahnya jutaan,” katanya.

Korban mimpi

Harapan menjadi artis terkenal sempat muncul lagi ketika Ian diajak TPI main sinetron, menyanyi pada acara off air dan jadi bintang iklan dengan bayaran Rp 500.000-Rp 1.500.000. Namun, setelah itu masa-masa manis menjadi selebriti benar-benar berakhir. Tidak ada lagi order manggung dari TPI.

Setelah itu, Ian kadang ikut manggung di kampung-kampung bersama Ucok Koki atau Pardi Hallo, peserta Dangdut Mania I yang sekarang menjadi penyelenggara konser dangdut kecil-kecilan. Bayaran yang diterima Ian sekitar Rp 100.000-Rp 200.000 sekali tampil. Namun, order seperti ini tidak selalu datang tiap minggu.

”Saya sempat frustrasi dan mau bunuh diri. Mau pulang ke Solo saya malu karena keluarga dan teman-teman sudah telanjur menganggap saya sebagai artis sukses yang banyak duit,” katanya.

Nasib serupa juga dialami Jupriadi alias Jupri Asong dan Ida Nyonya. Jupri mengaku, setelah menjadi juara II Dangdut Mania I, dia berhenti mengasong. ”Kata teman-teman, saya tidak pantas lagi mengasong sebab saya sudah jadi artis,” ujarnya.

Jupri Asong pun mencoba mengandalkan hidup dengan menyanyi. Namun, undangan menyanyi belum tentu muncul satu bulan sekali dengan bayaran paling besar Rp 500.000. ”Akhirnya, uang hadiah yang jumlahnya sekitar Rp 28 juta habis untuk makan keluarga. Sekarang saya benar-benar miskin. Mau ngasong lagi, saya tidak punya modal,” ujar Jupri yang harus menghidupi istri dan tiga anaknya.

Kini, Jupri berniat menjual rumah tipe 21 miliknya di Tangerang yang merupakan harta dia satu-satunya saat ini. Uangnya akan digunakan untuk modal berdagang lagi. ”Saya benar-benar kapok ikut acara semacam ini. Saya kira, pemenangnya akan diorbitkan jadi artis.”

Theresia mengatakan, TPI tak pernah berjanji mengorbitkan peserta Dangdut Mania I menjadi artis. ”Kami hanya memberi kesempatan kepada mereka untuk tampil di televisi. Kalau mereka disukai penonton dan kemudian jadi artis, itu adalah bonus,” katanya.

Ya, inilah drama dari sebuah kebudayaan instan yang terus direproduksi televisi melalui kontes menyanyi, idola-idolaan, mama-mamaan, dan juga sinetron. Sebuah kebudayaan yang selalu memberikan mimpi bahwa sukses dan popularitas bisa diperoleh dalam waktu singkat.

Sialnya, karena gempuran mimpi-mimpi itu kian gencar, banyak orang tidak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang nyata. Kisah Ian Kasolo, Jupri Asong, dan Ida Nyonya hanyalah contoh kecil.

Luna Maya Senang Main Sepakbola Bareng Cowok Cowok

Luna Maya (24) mulai tergila-gila dengan permainan futsal. Empat bulan terakhir, pemilik nama Luna Maya Sugeng ini mengaku sibuk berlatih olahraga jenis sepak bola tersebut.

”Seminggu sekali aku bermain futsal bersama teman-temanku,” ujar Luna di sela-sela peluncuran majalah Elle Indonesia, Jumat (28/3) malam. Gadis kelahiran Denpasar, Bali, 26 Agustus 1983, ini mengakui, dirinya mulai menyukai olahraga sepak bola setelah menginjak dewasa.

”Sejak kecil aku tidak suka nonton dan main bola. Tetapi aku penasaran melihat orang-orang kok senang menonton dan bermain sepak bola, ya,” cerita Luna.

Dari rasa penasaran itu, pemain sinetron dan film layar lebar ini mencoba melakoninya sendiri.

”Ternyata menyenangkan. Eh, aku malah jadi ketagihan,” kata Luna yang mengaku ia juga mulai rajin menonton pertandingan sepak bola di televisi.

Alasan suka futsal?

Luna mengerutkan keningnya. ”Apa ya?” kata Luna yang dalam hitungan detik langsung berkomentar, ”Kalau lagi main futsal kan banyak berlarian. Aku keringatan. Kalau sudah keringatan, aku merasa terlihat seksi. He-he-he.”

Jeniffer Aniston Tamak – Berbuat Kebajikan Tanpa Memberi Uang

Aktris Jennifer Aniston akan memberi kejutan di sebuah acara reality show ”Big Give” yang dipandu Oprah Winfrey di televisi ABC. Episode final yang akan ditayangkan 20 April nanti menampilkan para kontestan yang ditantang untuk kegiatan yang menginspirasi agar memberi sesuatu yang terbaik dengan tanpa uang.

Salah satu juri dalam acara itu, Jamie Oliver, mengatakan, dirinya tak diperbolehkan berkomentar banyak soal rencana masuknya Jennifer Aniston dalam acara itu. ”Saya tak dibolehkan bicara, tetapi percaya saja kepada saya kalau saya pun suka dengan rencana itu,” katanya.

Pihak Aniston, diwakili produser acara Ellen Rakieten, mengatakan, Aniston langsung setuju ketika ditanya kemungkinan terlibat dalam acara itu. ”Saya menyukainya, apa pun yang kau butuhkan saya menyetujuinya,” kata mantan istri Brad Pitt kelahiran California, AS, 11 Februari 1969, ini seperti dikutip Rakieten.

”Dia akan menjadi teman terbaik yang kalian inginkan,” kata Rakieten seperti dikutip Asian News International (ANI). Rakieten menyatakan, artis yang membintangi film Rumor Has It… (2005) dan The Break-Up (2006) ini termasuk orang yang masih dicari penggemarnya.

Dewi Persik Bingung Karena Bakal Dicekal

Pedangdut Dewi Persik mencak-mencak karena bakal dicekal tampil di Kota Tangerang. Pemilik goyang gergaji ini merasa dicemarkan nama baiknya dan berencana menuntut balik (menggugat) Wali Kota Tangerang, H Wahidin Halim. “Saya akan melakukan tindakan hukum, karena ini sudah melakukan pencemaran nama baik. Kalau saya goyang tak senonoh, saya akan tanyakan mana yang tak senonoh?” kata Dewi di Studio 4 TPI, Taman Mini, Jakarta Timur, Senin (24/3) malam.

Pencekalan Dewi Persik manggung di seluruh wilayah Pemkot Tangerang terkait Perda Kota Tangerang No 8 tahun 2005 tentang Pelacuran, jadi tanda tanya besar bagi janda Syaiful Jamil tersebut. Dengan nada tinggi, Dewi menyatakan dirinya bukan pelacur.

“Tuhan saja tidak melarang dan pekerjaan saya bukanlah pelacur. Jangan urus pekerjaan orang lain, urus saja daerahnya sendiri. Lagian mana mungkin di depan pejabat saya tampil dengan payudara terbuka,” sahutnya.

Silakan gugat

Wahidin hanya tersenyum mendengar pedangdut Dewi Persik akan menggugatnya. “Saya baru berencana mencekal. Silakan saja jika dia mau menggugat saya. Saya akan tetap tersenyum. Mengapa saya tidak setuju dengan penampilannya? Karena goyang dangdut tidak perlu sevulgar itu,” kata Wahidin di Tangerang, Selasa

Putu Wijaya Dilanda Kegelisahan Dunia Teater

Putu Wijaya rupanya menyimpan kegelisahan pada persaingan di dunia teater. Persaingan yang dia maksud bukan adu kreatif antar kelompok teater, tetapi antara dunia teater dan ”teater” lain seperti infotainment, berita kriminal, hingga aneka jenis pendidikan di masyarakat yang makin membuat orang enggan berpikir.

”Banyak siaran televisi yang disajikan bukan pada jam tayang seharusnya. Akibatnya, siapa saja dengan mudah bisa melihat penyiksaan yang seakan-akan makin sadis itu makin baik,” tutur Putu yang lahir di Tabanan, Bali, 11 April 1944, itu.

”Kalau di teater, adegan pemukulan, penyiksaan, atau darah itu pura-pura, dibuat-buat. Nah, dalam tayangan televisi hal itu lebih menarik karena darahnya betulan. Rupanya itulah yang disukai masyarakat sekarang,” kata Putu yang memimpin Teater Mandiri.

Penulis sekitar 30 novel ini juga mengkritik media massa yang dinilainya punya andil melanggengkan eksistensi pesaing teater itu.

Apakah ia cemas penonton teater akan berkurang?

”Teater itu menyajikan ruang untuk berpikir. Ruang refleksi yang selama ini susah didapatkan orang. Mungkin, penonton (teater) tidak banyak, tetapi mereka berpikir,” jawabnya.

Joan Chen Sangat Ambisius

Joan Chen (46) tetaplah anggun. Mengenakan gaun malam hitam panjang dengan bagian punggung terbuka, langkah Chen bagaikan melayang saat menuju pintu keluar Hong Kong Convention & Exhibition Center, Hongkong, Senin (17/3) malam. Ia membawa satu trofi tanda kemenangannya malam itu untuk kategori Aktris Pendukung Terbaik dalam film The Sun Also Rises pada Asian Film Awards ke-2.

Bagaimana rasanya menjadi Aktris Pendukung Terbaik?

I’m very excited! Saat pertama kali ditawari peran itu, sutradara (sutradara China, Jiang Wen) bilang, hanya saya yang bisa memainkan karakter saya dalam film itu. Waktu saya membaca skenarionya di pesawat, saya terkejut dengan karakter itu. (Di film itu, Chen memainkan tokoh Doctor Lin, wanita simpanan seorang pemburu yang jatuh cinta pada seorang guru.)

Pilih mana, menjadi aktris atau sutradara?

Saya mencintai keduanya. Saya memang lebih aktif berakting beberapa tahun terakhir ini, tetapi saya sebenarnya rindu menjadi sutradara lagi. Masalahnya, sebagai aktris, saat ini sudah tak banyak lagi peran menantang bagi saya. Saya benar-benar berharap agar para penulis (skenario) lebih memerhatikan (bintang film) perempuan seusia saya. Sudah tidak banyak peran tersedia untuk generasi saya, padahal dengan pengalaman yang kami miliki, seharusnya ada lebih banyak peran yang menantang

Wynona Ryder Bantah Bertunangan

Aktris Winona Ryder, yang namanya sempat tenggelam gara-gara kasus ”mencuri” di sebuah toko, kini kembali aktif. Kasus ”mengutil” itu terbukti tak meredupkan masa depannya.

Pada kurun tahun 2008-2009 Ryder akan membintangi beberapa film, di antaranya The Private Lives of Pippa Lee, Alpha Numeric, Star Trek, The Informers, dan The Last Word.

Selain tetap laku berakting, Ryder juga masih menjadi magnet bagi banyak orang. Ketika bermain dalam film Water Pill, lawan mainnya, Blake Sennett, gitaris band indie Rilo Kile, tak melewatkan kesempatan untuk menggaet Ryder.

Mereka diberitakan mengumumkan pertunangan saat menjadi tamu Valentino Show, acara penanda berakhirnya Paris Fashion Week di Paris, pekan lalu.

Namun, perempuan kelahiran 29 Oktober 1971 di Winona, Minnesota, ini dikabarkan tidak suka dengan publikasi tersebut.

”Berita itu tidak akurat. Kami tidak bertunangan,” begitu Ryder, yang bermain dalam film Autumn in New York, Girl Interrupted, dan Reality Bites, membantah.

Entah karena enggan bertemu media atau saking kesalnya, Ryder menyampaikan bantahan itu pun lewat juru bicaranya.