Group Musik ABBA Tidak Mungkin Bersatu Kembali


Ini sungguh sebuah kenyataan yang tak seindah gambar mereka di film yang kini tengah laris, Mamma Mia! Grup musik Swedia ABBA sepertinya tak akan tampil bersatu di panggung lagi, seperti halnya reuni panggung grup musik legendaris Led Zeppelin.

Sebenarnya pernyataan ini sudah pernah diungkapkan dua personel mereka, Bjorn Ulvaeus dan Benny Andersson, dan dimuat di surat kabar terbitan Inggris, The Sunday Telegraph, dua bulan lalu. Bahkan, tahun 2000, mereka pernah menolak tawaran tur reuni ABBA keliling dunia senilai 1 miliar dollar AS.

”Alasannya? Ya, tak ada motivasi untuk menjadi grup lagi. Kami justru ingin dikenang seperti kami dulu adanya, muda, penuh gairah dan ambisi…,” ungkap Bjorn Ulvaeus.

”Terngiang di telinga saya kata-kata Robert Plant (vokalis supergrup Led Zeppelin) bahwa kini Led Zeppelin tinggal dikenang orang sebagai ’musik selimut’ lantaran mereka telah membuka sendiri ’selimut’ yang menyelimuti legenda tentang mereka (dengan tampil bereuni di panggung lagi tahun lalu),” komentar Benny Andersson.

Padahal, kata Andersson, hakikat musik pop itu sesaat saja. ”Pop musik itu hanya ada pada saat musik itu lahir. Dan, kami (ABBA) saat ini sebenarnya sudah ’mati’ seiring berlalunya waktu,” kata Anderson seperti dikutip The Telegraph.

Grup musik Swedia ini mencetak banyak lagu-lagu hit antara tahun 1970 dan 1980-an dengan total penjualan tak kurang dari 350 juta kopi piringan—termasuk juga penjualan album-album mereka setelah berhenti berpentas tahun 1986.

Hit mereka? Terbanyak adalah Dancing Queen dan Mamma Mia di tahun 70-an. Bahkan, setelah 25 tahun tak manggung, rekaman yang ada hit mereka Waterloo dan Take A Chance On Me masih dikabarkan laku setidaknya tiga juta kopi setiap tahun (BBC News, Maret 2008).

Lagu-lagu mereka menjadi sumber inspirasi untuk pentas-pentas opera musik, seperti Mamma Mia! yang mulai dipanggungkan di West End, Inggris sejak 2005 dan juga pentas teater di Broadway, New York, sampai saat ini.

Sebuah pentas yang kisahnya manis meski grup musik yang mengambil nama dari inisial huruf depan nama-nama mereka, Agnetha-Bjorn-Benny-Anni Frid, ini sebenarnya membenamkan kisah pahit kehidupan mereka.

Generasi bunga

Kehebatan sepak terjang mereka di belantika musik disebut-sebut sebagai salah satu sisi emas ”generasi bunga” di dekade 70-80-an. Sebuah era generasi yang memiliki idealisme kebebasan meski tak selamanya bebas itu berakhir indah seindah cerita film Mamma Mia!

Lihatlah ketika awal mereka tampil, penuh gemerlap dan kebahagiaan. Agnetha Faeltskog, yang saat itu masih berusia 19 tahun, rupawan, berambut pirang, terlibat roman cinta dengan Bjorn Ulvaeus (25). April 1970 bertunangan dan November tampil bersama dalam sebuah pentas kabaret di Swedia dengan Benny Andersson (24) serta pasangan hidup bersamanya, Anni-Frid Lyngstad (25).

Mereka makin mengejutkan publik ketika menyabet kemenangan di Eurovision Song Contest tahun 1974. Lagu-lagu mereka pun menjadi hit di berbagai belahan dunia, termasuk Amerika Serikat dan Inggris.

Hidup pun berubah seiring berjalannya waktu. Perubahan-perubahan hidup keempat pemusik-penyanyi ini pun tecermin dalam lirik-lirik mereka.

”Selama sepuluh tahun, saya sama sekali tak menyanyi ataupun mendengarkan musik. Kesunyian merupakan kebutuhan saya meski itu menyedihkan…,” tutur Agnetha Faeltskog, seperti dikutip BBC News, 5 Mei 1999.

Selama sepuluh tahun itu, Agnetha hidup di sebuah pulau terpencil di luar kota Stockholm dengan dua anaknya, hasil perkawinan dengan mantan suaminya—teman segrupnya dulu di ABBA, Bjorn Ulvaeus. Pada 1999 itu, kedua anak Agnetha sudah cukup dewasa, Linda 26 tahun dan Christian 21 tahun.

Agnetha pilih menyepi dan menghabiskan waktu mengutak-atik perbintangan (astrologi), berkuda di tempat penyendiriannya, atau praktik yoga.

Anni-Frid Lyngstad? Anak wanita Norwegia dan tentara Jerman yang menetap di Swedia ini juga tak mulus hidupnya. Sebelum kawin dengan teman segrupnya di ABBA, Benny Andersson, Anni-Frid sudah punya dua anak hasil perkawinannya dengan teman semasa kanak-kanak, Ragnar Frederiksson.

Berbagai kejadian tragis menimpanya. Setelah cerai dengan Andersson dan menikah dengan pria darah biru Jerman, Pangeran Ruzzo Reuss won Plauen, pada tahun 1992, ia kehilangan anak perempuannya, Anne Lise-Lotte Casper, yang tewas kecelakaan lalu lintas di AS pada usia 30 tahun pada 1997.

Dua tahun berselang, 1999, Anni-Frid kehilangan suaminya, Pangeran Ruzzo Reuss, pada usia 49 tahun karena kanker. Pangeran Ruzzo meninggal di samping Anni-Fried istrinya, yang saat itu berusia 53 tahun.

Bjorn Ulvaeus dan Benny Andersson? Januari tahun lalu, Bjorn Ulvaeus dituduh melakukan penghindaran pajak senilai 16 juta kron Swedia (senilai lebih dari 20 miliar rupiah). Ia dinilai ”membayar pajak lebih kecil dari semestinya”, dari hasil penjualan hit ABBA di masa lalu.

Mereka dililit banyak persoalan. Namun, ketika pemutaran perdana film Mamma Mia! di Swedia bulan Juli 2008 lalu, keempat personel ABBA ini pun tampil bersatu meski bukan bermusik di panggung. Agnetha, Bjorn, Benny, dan Anni-Frid disambut karpet merah di studio Benny Andersson di Stockholm, tempat pemutaran perdana film tersebut.

Itulah sekelumit kisah tentang grup Swedia yang tak pernah bubar; dan yang tak pernah manggung lagi sejak tahun 1986.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s