Monthly Archives: Juli 2010

D’Bagindas Minta Ampun

D’Bagindas, band pengusung lagu pop melayu, bakal meluncurkan single religi berjudul ”Ampuni Dosaku” pada Agustus 2010. Single religi bergenre melayu itu mempunyai makna hidup bagi empat personel D’Bagindas, yaitu Bian (vokal), Mike (keyboard), Dandy (gitar), dan Tile (gitar).

Menurut Mike, lagu tersebut lahir dari pengalaman pribadi D’Bagindas sekaligus realitas hidup manusia. Setiap manusia selalu berbuat salah dan dosa, terutama pada sesamanya.

”Seperti kami ini yang sejak kecil selalu tidak dapat lepas dari kesalahan dan dosa. Maka sudah sepatutnya memohon ampun kepada Sang Pencipta,” kata Mike sebelum memulai Konser Gratis Segalanya di Kudus, Jawa Tengah, akhir pekan lalu.

Tidak mengherankan jika D’Bagindas membuat lirik lagu religi untuk menyindir manusia yang selalu berulang kali jatuh pada dosa yang sama, ”…sering kulakukan kesalahan yang sama, begitu banyak dosaku, dengan air mataku, ampuni aku ya Allah…”

Banyak orang yang tidak pernah belajar dari kesalahan. Banyak pula orang yang kerap kali mengaku bertobat, tetapi selalu mengulangi perbuatan buruknya. ”Melalui lagu ’Ampuni Dosaku’, kami ingin mengajak semua orang untuk selalu memperbaiki kesalahan,” kata Mike.

Nurani Dr Daoed Joesoef Tak Terima Penghargaan Achmad Bakrie Karena Lumpur Lapindo

Nurani saya tidak dapat terima,” komentar Dr Daoed Joesoef (84) mengenai penolakan atas penganugerahan Penghargaan Achmad Bakrie 2010. Pada Mei lalu dia dihubungi Ulil Abshar Abdalla dari Freedom Institute. ”Langsung saya tolak,” katanya lewat telepon, Kamis (29/7).

Sepekan kemudian ada orang datang. Mengajak kompromi. Uangnya tidak apa-apa ditolak, tetapi award-nya jangan. ”Saya tetap tidak mau.” Bulan Juli awal ada berita bahwa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 1978-1983 itu diumumkan sebagai salah satu penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2010. Dia membiarkan. Katanya, ”Tidak etis mendahului.”

Ketika ada pengumuman publik, dua hari yang lalu, baru ekonom yang hingga hari ini masih aktif menulis dan membaca tersebut menyatakan kembali penolakannya. ”Kasus lumpur Sidoarjo adalah masalah kemanusiaan. Saya adalah bagian dari kemanusiaan. Berlarut-larutnya penanganan kasus lumpur Lapindo itu menyentuh nurani kemanusiaan saya,” tegasnya.

”Bukan sekali ini saya menyatakan penolakan dalam kasus lumpur Lapindo. Tidak lewat kata-kata, tetapi lewat lukisan. Dua tahun lalu saya melukis semburan lumpur Lapindo. Lukisan dibeli Soegeng Sarjadi Syndicate. ”Orang yang menerima selalu berada di bawah yang memberi, dan saya tidak mau yang memberi itu berlumpur.” Tetap tegar berprinsip!

Kemajuan Teknologi Membuat Semua Manusia Dekat

Kemajuan teknologi dan jejaring sosial membuat manusia merasa lebih dekat satu sama lain. Namun, aktris Drew Barrymore (35) melihatnya secara berbeda.

Barrymore menganggap hal ini sungguh suatu ironi. ”Kita sekarang ini merasa lebih terhubung satu sama lain daripada sebelumnya karena kemajuan teknologi. Saya tidak berpikir bahwa kita akan beranjak lebih jauh dari itu. Saya pikir ini semua hanyalah omong kosong belaka,” ujar bintang 50 First Dates tersebut.

Menurut Barrymore, kita sebenarnya tidak perlu berpura-pura menjadi orang yang sempurna sebab itu tidak cuma membosankan, tetapi juga tidak menggambarkan kenyataan kita seperti apa. ”Saya hanya ingin jujur kepada diri saya sendiri, itulah esensi dari hidup ini. Saya tidak akan pernah bisa bersandiwara,” katanya.

Terkait dengan film komedi romantik terbarunya, Going The Distance, Barrymore memerankan tokoh Erin, dan Justin Long memerankan tokoh Garret. Kedua tokoh ini berupaya menjaga hubungan cinta mereka meskipun faktanya tinggal berbeda kota.

Dalam film ini, pemeran cowok, Long, sempat tampil tanpa busana. ”Lucu sekali. Biasanya kan perempuan yang telanjang. Sekarang malah kebalikannya.”

Cut Mini Ternyata Jago Mendongeng

Pembawa acara, pemain film, dan juga penyiar radio Cut Mini (36) kini punya kesibukan baru. ”Aku sekarang lagi asyik mendongeng di FeMale Radio, tiap hari, dari Senin sampai Jumat, bersama Paman Gery,” katanya.

Ternyata, kiprah Mini di dunia radio ini terbilang baru, yaitu mulai Maret lalu. ”Begitu diminta menjadi penyiar, langsung mengisi acara Dongeng Pagi, Paman Gery yang mengajarkan saya bagaimana mendongeng,” kata Mini.

Dari hobi baru tersebut, Mini kini punya julukan sebagai Bubu Mini. ”Julukan itu atas usul pendengar juga,” kata peraih penghargaan Aktris Terbaik di Festival Film Independen Internasional, Brussel, dalam film Laskar Pelangi ini.

Menjadi pendongeng ternyata mengasyikkan. ”Serunya itu kalau pas acara off air, banyak anak-anak datang, lucu-lucu. Kita tidak sekadar mendongeng, tetapi juga mengajak anak-anak terlibat dalam cerita, misalnya, mereka kita ajak menjadi salah satu tokoh di cerita itu,” kata Mini.

Jadi, inti mendongeng tak sekadar mendengarkan, tetapi juga bagaimana agar anak-anak merasa terlibat. Ini akan membuat suasana menyenangkan dan tidak membosankan.

Salah satu kegiatan off air yang kini melibatkan Mini adalah ”979 Buku Dongeng untuk Sahabat”. ”Ini kampanye agar anak-anak mau menyumbangkan buku untuk mereka yang membutuhkan,” katanya

Bulan Madu dan Pernikahan Sederhana Emily Blunt

Masih ingat asisten senior Miranda Priestly (diperankan Meryl Streep) dalam The Devil Wears Prada, yang tingkahnya sangat snob dan bitchy? Betul, tokoh bernama Emily itu diperankan dengan gemilang oleh Emily Blunt (27), aktris asal Inggris yang pekan lalu menikah dengan John Krasinski (30), pemeran tokoh Jim dalam serial televisi The Office.

Pernikahan mereka tidak gebyar-gebyar. Berlangsung dengan syahdu di Villa d’Este di Danau Como, Italia, dan hanya dikelilingi orang-orang terdekat. Tuan rumahnya adalah warga ”lokal” yang paling terkenal di situ, George Clooney. Sementara sahabat-sahabat mempelai yang datang, di antaranya, adalah Meryl Streep, Stanley Tucci, Matt Damon beserta istrinya, Luciana Barroso, juga David Schwimmer. Foto bulan madu Blunt dan Krasinski di sekitar Danau Como pekan ini memenuhi halaman hampir semua majalah hiburan di AS.

Blunt yang menetap di London merupakan salah satu aktris paling berbakat di Inggris. Sejak ia bermain pertama kali dalam film layar lebar, My Summer of Love (2004), para kritikus film langsung bertubi-tubi memberi pujian. Ia menerima penghargaan Golden Globe melalui Gideon’s Daughter dan menjadi nomine untuk perannya dalam The Devil Wears Prada (2007) serta The Young Victoria (2009).

Sahabat Blunt, Anne Hathaway, kerap mengingat perjuangan mereka berdua untuk memenuhi tuntutan peran dalam film The Devil Wears Prada, yaitu menurunkan berat badan. Di situ Blunt dituntut memerankan sosok Emily yang tubuhnya sangat langsing. ”Blunt dan saya saling berpegangan tangan dan kami berdua menangis karena kami sangat lapar,” kata Hathaway.

Barry Likumahuwa Tampil Di Acara Jazz Fort Rotterdam

Barry Likumahuwa (26), pemain bas, akan tampil di acara Jazz”Fort Rotterdam di Makassar pada 31 Juli-1 Agustus nanti. Barry yang tampil dengan kelompok Barry Likumahuwa Project akan menghadirkan bintang tamu Benny Likumahuwa, seniman jazz kawakan yang tak lain adalah bapaknya sendiri.

”Main sama Papa itu pasti seru. Kalau di panggung, selalu saja dia punya ide-ide spontan,” kata Barry yang pada Sabtu (24/7) sore kemarin tampil di sebuah acara jazz di sekolah Binus, Serpong, Tangerang.

Meski kadang sempat keteteran dengan ide-ide mendadak Benny, bagi Barry hal itu justru menjadi tantangan yang menarik. Seniman jazz, katanya, memang harus siap berada di dunia spontan. Dulu, sewaktu awal-awal bergabung dengan band yang dipimpin Benny, Barry mengaku kadang kena tegur sang ayah.

”Sekarang Papa yang gabung ke aku he-he-he…. Dia bisa menyesuaikan dengan kami,” kata Barry, yang di Makassar nanti juga akan mendukung Dwiki Dharmawan dalam World Peace Orchestra.

Meski berjarak usia lebih dari 30 tahun, Barry merasa ayahnya masih sangat penuh energi. ”Aku dan temen-temen sampai heran, di panggung Papa kok malah lebih muda dari kita-kita. Dia juga lebih ’gila’ dari kita-kita, he-he- he…,” kata Barry.

Bella Saphira Menangis Haru Lihat Bedah Rumah

Bella Saphira, pemain sinetron, menangis haru saat terlibat dalam acara reality show televisi ”Bedah Rumah” pekan lalu. Selama tiga hari pada 19-21 Juli lalu, Bella hidup dekat dengan keluarga miskin di sebuah desa di Kecamatan Gunung Sindur, Bogor. Ia menangis tidak saja karena rumah keluarga tersebut tidak layak huni, tetapi juga lantaran tak tega melihat nasib keluarga yang masih susah makan.

”Mereka makan nasi hanya dengan daun singkong yang diambil langsung dari ladang. Tempe, apalagi telur, itu barang yang mewah,” kata Bella yang ikut makan bersama keluarga buruh tani dan buruh kerajinan dengan lima anak itu.

”Waktu kami makan, hujan deras sedang turun. Makananku kena tetesan air hujan dari atap yang bocor,” kata Bella yang katanya makan sambil menitikkan air mata.

Pengalaman itu mengingatkan Bella untuk lebih bersimpati dan peduli pada kaum papa. Ia tidak menyalahkan orang-orang yang mampu makan di tempat mewah karena mereka memang mampu.

”Aku juga tidak mau munafik bahwa aku juga suka makan enak dan makan apa saja karena aku ini memang penikmat makanan. Tapi, mbok ya jangan buang-buang makanan. Masih banyak orang yang untuk bisa makan saja sulit,” kata Bella seperti mengingatkan.