Monthly Archives: Maret 2011

Syahrini Terima Mobil BMW Sport Rp1,1 Miliar Sebagai Down Payment

Syahrini segera mengendarai mobil sport BMW seharga Rp1,1 miliar. Mobil mewah itu merupakan bayaran atas kontrak 4 tahun dengan Pelangi Record. “Mobil sport ini hasil keringat aku sendiri karena kerja siang malam. Ini penghargaan atas kerjaku. Aku rasa ini wajar. Semua teman-teman artis juga gitu,” kata Syahrini saat ditemui di Ballroom Hotel Borobudur, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, semalam.

Mantan rekan duet Anang Hermansyah itu mengungkapkan, mobil sport itu sudah dia incar agak lama. “Aku pernah main ke showroom sama temanku. Katanya ada mobil baru yang mau datang. Ya udah, aku incar,” ujar Syahrani lagi. Manajer Syahrini, Rani, menjelaskan bahwa mobil sport itu adalah down payment pihak label rekaman kepada Syahrini. Menurutnya, Syahrini sendiri yang memilih mobil sebagai bentuk pembayaran.

“Kontrak Syahrini dengan Pelangi Record, kalau diuangkan harganya Rp 1 miliar. Aku tanya Syahrini mau dibayar dengan apa. Dia bilang mau barang saja, mau mobil. Aku langsung telpon showroom, dan besoknya deal,” terang Rani. Ia melanjutkan, dalam kesepakatan kontrak dengan Pelangi Record, Syahrini diwajibkan untuk membuat 3 album berisi 30 lagu selama 4 tahun, dengan setahun pertama terhitung sebagai masa promosi.

“Uang Rp1,1 miliar itu hanya down payment loh,” imbuh Rani. Syahrini bersyukur atas rezeki itu. Ia pun berterima kasih kepada Anang yang telah memperkenalkan dirinya dengan Pelangi Record. “Mas Anang bahkan menjadi saksi kontrak aku. Penandatanganan kontrak pun dilakukan di rukonya Mas Anang,” kata Syahrini. Saat itu, ujarnya, mereka juga menggelar selamatan dan barbeque di ruko Anang.

Total bayaran yang akan diterima Syahrini dari kontraknya itu disebut-sebut mencapai Rp4 miliar. Hal itu membuat Syahrini dikabarkan masuk ke dalam jajaran penyanyi dengan bayaran termahal. “Subhanallah. Mudah-mudahan, hahaha…” kata Syahrini sambil tertawa. Namun ia menolak untuk mengklarifikasi kabar itu. “Mengenai angka, itu manajemenku yang urus. Aku tugasnya hanya make up dan bernyanyi,” tutupnya diplomatis.

Aktris Elizabeth Taylor Sang Legenda Hollywood Meninggal Dunia

Dunia layar perak berduka. Aktris Elizabeth Taylor, yang menghiasi jagat gemerlap Hollywood selama lebih dari setengah abad, meninggal dunia pada usia 79 tahun di Rumah Sakit Cedars-Sinai Medical Center, Los Angeles, AS, Rabu (23/3).

”Aktris legendaris, tokoh bisnis, dan aktivis yang tak kenal takut, Elizabeth Taylor, meninggal dunia dengan tenang hari ini di Rumah Sakit Cedars-Sinai di Los Angeles. Dia ditunggui anak-anaknya—Michael Wilding, Christopher Wilding, Liza Todd, dan Maria Burton,” demikian bunyi pernyataan resmi yang dirilis publisisnya, Sally Morrison.

Menurut Morrison, Taylor dirawat di rumah sakit itu sejak enam minggu lalu karena penyakit gagal jantung. Taylor meninggalkan 10 cucu, 4 cicit, dan jejak sejarah panjang karya sinematografi dan kisah kehidupan pribadi yang penuh warna.

Elizabeth—atau lebih akrab disingkat ”Liz”—Taylor lahir di London, 27 Februari 1932, dari pasangan asal St Louis, Missouri, AS. Pada usia tujuh tahun, ia dan orangtuanya pindah ke Los Angeles, California.

Suatu hari, tunangan salah satu bos Universal Studios melihat Liz kecil di galeri seni milik ayahnya. Ia pun diusulkan untuk mengikuti audisi pemeran film layar lebar dan berhasil meyakinkan para petinggi Universal Studios untuk mengontrak dia.

There’s One Born Every Minute (1942) adalah film pertama yang dibintangi Liz saat ia baru berusia 10 tahun. Dua tahun kemudian, ia sudah menjadi bintang setelah bermain dalam film National Velvet (1944).

Sejak saat itu, nama Liz tak pernah turun dari orbit dunia bintang di Hollywood. Selain kualitas akting dan kecantikannya, Liz juga sangat populer karena kehidupan pribadinya yang tak pernah lepas dari sensasi.

”Aktris kelahiran London itu menjadi bintang pada usia 12, menikah dan cerai pada usia 18, dewi layar perak pada usia 19, dan menjadi janda (ditinggal mati suaminya) pada usia 26,” tulis kantor berita Associated Press, yang menggambarkan dengan tepat liku-liku dan keajaiban kehidupan Liz Taylor.

Sepanjang kariernya, ia telah membintangi tak kurang dari 70 judul film layar lebar dan film televisi. Ia mengoleksi dua Oscar sebagai Aktris Terbaik pada film Butterfield 8 (1960) dan Who’s Afraid of Virginia Woolf? (1966) dan delapan pernikahan, termasuk dua kali menikah dengan aktor Richard Burton.

Akhir 1980-an hingga awal 1990-an, Liz dikenal sebagai aktivis kampanye bahaya HIV/AIDS dan mendapat penghargaan khusus Jean Hersholt Humanitarian Award pada 1993.

Ia mengakui secara terbuka mengidap penyakit jantung pada 2004, tetapi selalu menepis dugaan penyakit itu akan segera merenggut hidupnya. Namun, kini, sang legenda benar-benar telah meninggalkan kita..

Kronologi Teror Bom Buku Yang Menimpa Ahmad Dhani

Teror bom menggunakan paket buku kembali terjadi. Kali ini, teror ditujukan kepada musisi Ahmad Dhani. Sejumlah paket serupa dikirim ke tiga tempatdi Jakarta yakni kantor JIL Utan Kayu, kantor Badan Narkotika Nasional, dan rumah Ketua Pemuda Pancasila Yapto. Berikut kronologi bom ke studio Ahamd Dhani

SELASA 15 Maret
Pukul 13.00
Karyawan musisi Ahmad Dhani menerima paket buku berjudul ‘Yahudi Militan’. Paket ditujukan ke alamat Jalan Pinang Mas 3 Nomor E1. Ahmad Dhani tak berada di tempat sehingga surat pengirim diambil karyawan tersebut untuk Dhani.

Rabu 14 Maret
Pukul 09.00
Karyawan Ahmad Dhani membuka paket berbentuk buku itu. Saat dibuka dia curiga karena lengket.

Pukul 10.00
Ahmad Dhani curiga bentuk paket yang sama dengan bom buku yang dikirim ke kantor JIL Utan Kayu. Ahmad sempat berusaha menghubungi nomor yang tercantum tapi tak terhubung. Akhirnya, Dhani menghubungi polisi.

Sekitar pukul 12.00
Polisi meledakkan bom tersebut di dekat lokasi

BOM PAKET BUKU BERMALAM DUA HARI DI RUMAH AHMAD DHANI
Kepala Biro Operasional Polda Metro Jaya Komisaris Besar Sujarno menjelaskan paket bom buku yang diterima Ahmad Dhani, itu dikirim pada hari yang sama dengan yang dikirim ke Ulil Abshar, BNN, dan Yapto yakni 15 Maret. “Diterima hari Selasa jam 13.00, jadi sempat bermalam,” katanya, Kamis (17/3).

Paket itu, kata Sujarno, baru dibuka pukul 09.00, Kamis (17/3) oleh karyawan Dhani. “Begitu melihat bentuknya buku dan waktu dibuka lengket, dia curiga, lalu lapor polisi,” ujar Sujarno.

Dari keterangan karyawan tersebut, dikatakan Sujarno, Dhani tidak ada di rumahnya ketika paket diterima. Karena itulah, paket dibuka oleh karyawannya. “Hanya suratnya yang diserahkan ke Ahmad Dhani,” katanya.

Surat yang kini dipegang polisi itu berisikan ajakan berdebat untuk Dhani. “Mengajak debat semacam itulah,” ujar Sujarno.

Menurut Sujarno, Polda menyatakan bahan peledak di bom buku Ahmad Dhani sama dengan tiga bom buku lain. “Menurut Gegana, Potasium juga,” ujarnya.kata Kepala Biro Operasional Polda Metro Jaya Komisaris Besar Sujarno kepada wartawan, Kamis (17/3).

Dari hasil uji Pusat Laboratorium Forensik Markas Besar Kepolisian RI menyebutkan bahan bom buku Utan Kayu, BNN, dan Yapto adalah campuran Potasium Chloride dan alumunium. “Rangkaiannya juga sama, dari pipa-pipa dan sejenis baterai HP,” ujar Sujarno.

Rumah dan studio artis Ahmad Dhani di Pondok Indah, Jakarta Selatan, juga menerima ancaman bom, hari ini. “Kami sudah memanggil tim Gegana”, kata Kepala Unit Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Kebayoran Lama Inspektur Satu Prayitno kepada wartawan, Kamis (17/3) siang.

Paket itu juga berbentuk buku yang berperekat. Namun, Prayitno belum bisa memberikan informasi lanjutan karena polisi masih melakukan olah TKP.

Kepala Kepolisin Resor Jakarta Selatan Komisaris Besar Gatot Edy Pramono juga akan melakukan pemeriksaan ke lokasi. “Saya mau merapat,” katanya. Ia menyatakan belum tahu apakah ancaman tersebut bom sungguhan.

Dari catatan yang ada, ini adalah ancaman bom keempat dengan modus yang sama yakni melalui paket buku. Selasa lalu, paket bom buku dikirim kepada Ulil Absar Abdalla, Ketua Partai Demokrat dan pendiri Jaringan Islam Liberal; Kepala Badan Narkotika Nasional Gories Mere, serta Ketua Pemuda Pancasila Yapto Suryosumarno.

ISI SURAT PEMANCING AGAR AHMAD DHANI MEMBUKA PAKET BOM BUKU

Ancaman teror yang kini mulai mengarah kepada orang per orang juga dialami pentolan grup band Dewa 19, Ahmad Dhani.

Setelah tiga paket bom buku ditujukan kepada aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar-Abdalla, Ketua Umum Pemuda Pancasila (PP) Yapto S Soerjosoemarno, dan Kepala Pelaksana Harian BNN Komjen Pol Gorries Mere, giliran Dhani yang jadi sasaran.

Selasa (15/3/2011), Dhani juga kebagian bom buku yang dikirim oleh seseorang bernama Alamsyah Muchtar, warga Jalan Darmaga No 21 Bogor, Jawa Barat. Namun, paket berupa buku yang dibungkus amplop coklat itu baru diketahui pada Kamis (17/3/2011) pagi dan telah diledakkan oleh tim Gegana.

Dalam paket buku tersebut, pihak pengirim menyelipkan sepucuk surat kepada Dhani. Si pengirim misterius itu meminta Dhani memberikan kata pengantar untuk buku yang berjudul Yahudi Militan.

Seperti apa isi surat tersebut, berikut salinannya:

Kepada : Yth. Ahmad Dhani di Tempat
Hal : Permohonan Memberikan Kata Pengantar Buku dan “Interview”
Lampiran : 1 (Satu) Bundel Buku

Dengan hormat,
Bersamaan dengan ini, saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Alamsyah Muchtar
Alamat : Jl Darmaga No 21 Bogor. Tlp 081310002992
Pekerjaan : Penulis

sedang dalam proses penyelesaian penulisan buku yang urgensinya sangat erat dengan peran aktif Bapak, dalam lembaga yang Bapak pimpin. Penulis bermaksud mengajukan permohonan, sudi kiranya memberikan kata pengantar pada buku saya.

Judul buku : Yahudi Militan
Tema : Bukti-bukti serta bantahan Ahmad Dhani sebagai seorang Yahudi
Jumlah : 436 halaman

Saya siap untuk melakukan interview dengan Bapak mengenai karya kecil ini. Atas kerja sama dan kesediaan memberikan perhatian serta waktu, saya ucapkan terima kasih.

Hormat saya

ttd

Alamsyah Muchtar (Penulis)

Emma Watson Dinobatkan Sebagai Wajah Baru Kosmetik Lancome

Emma Watson Wajah Baru Lancome

Emma Watson Wajah Baru Lancome

SELANG beberapa hari setelah Emma Watson mengumumkan vakum kuliah sementara supaya fokus bekerja, bintang ‘Harry Potter’ itu tak sabar berbagi kabar tentang proyek terbarunya.

”Dimulai dengan L dan diakhiri dengan E. Aku yakin kalian telah menebak bahwa wajah baru Lancome adalah aku,” tulisnya di Twitter seperti dikutip situs eonline.com.

Berita tersebut diumumkan pula oleh direktur perusahaan Youcef Nabi, dalam sebuah pernyataan, Senin (14/3). ”Berkat pesona, romantisme, dan modernitasnya yang luar biasa, Emma Watson telah menjadi ikon dari generasinya. Kami merasa senang dengan kolaborasi baru ini bersama Emma, yang membawakan semangat baru ke dalam Lancome,” ujarnya.

Aktris berusia 20 tahun ini, merupakan duta termuda dari merek kosmetik tersebut. Dia bergabung dengan deretan selebritas lain yang telah lebih dulu terpilih, yakni Julia Roberts, Kate Winslet, Penelope Cruz, dan Anne Hathaway.

Tugas baru ini menambah daftar kesibukan Watson yang padat. Saat ini, bintang yang terkenal dengan selera modenya yang tinggi itu sedang menggarap film Harry Potter terakhir. Selain itu, dia juga mendesain pakaian untuk label etis People Tree, dan berkolaborasi dengan desainer Alberta Ferretti untuk memproduksi lini busana organik

Arzetti Bilbina Dilaporkan ke Polisi atas Kasus Penipuan dan Karena Tidak Membayar Honor Karyawan

Faby Marcelia melaporkan Arzetti Bilbina ke Kepolisian Daerah Metro Jakarta, Senin (14/3). Arzetti dituduh menipu Feby melalui Zema Management.

Zema Management adalah agen model yang dibentuk Arzetti. Feby mengaku sejak masuk ke manajemen pada 2008, ia belum pernah menerima honor sepeser pun dari Zema. Sementara, ia telah membintangi sejumlah sinetron dan menyanyi berkat Zema.

“Aku menuntut hak. Kita kan hidup butuh makan, butuh biaya,” katanya di gedung Reserse dan Kriminal Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat.

Feby mengatakan akhirnya memutuskan melaporkan Arzetti ke polisi setelah niatnya bernegosiasi selalu gagal. Feby juga berniat keluar dari Zema.

Pengacara Feby, Mahakaty, mengatakan, kliennya menuduh Arzetti telah melanggar Pasal 378 dan 372 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang penipuan dan penggelapan. Selain itu, Arzetti juga dituduh telah melanggar Pasal 88 Undang-Undang Perlindungan Anak tentang mempekerjakan anak di bawah umur.

“Kita uji secara hukum, apakah benar terbukti atau tidak laporan kita ini. Kita lihat di kepolisian dan nanti di pengadilan hasilnya seperti apa,” katanya.

Mahakaty mengatakan dengan laporan ini, Arzetti terancam hukuman maksimal enam tahun penjara. Ia mengingatkan, laporan sudah dibuat sejak September 2010. “Hari ini tuh kita pemeriksaan konfrontir dengan Arzetti,” katanya.

Namun, usai pemeriksaan, Arzetti tidak dapat ditemui. Menurut resepsionis Polda Metro Jaya, Arzetti segera pulang sesaat setelah menjalani pemeriksaan.

Ditemui di kantor Zema Management, Tebet, Jakarta Selatan, Senin (14/3), Arzetti membantah semua tuduhan tersebut. Ia mengaku terkejut. “Kenapa seorang yang sudah dianggap anak, kok sekarang melaporin ke polisi,” katanya.

Ia menegaskan tidak akan melapor balik. Sebab, Arzetti melanjutkan, Feby tergolong masih anak-anak. “Dia kan masih sekolah. Kalau kita laporin kalau kita panggil kan kasihan dia,”

Artis Korea Jang Ja-yeon Untuk Mendapat Peran Dalam Film Boys Before Flower Ternyata Harus Ngeseks Dengan 31 Pria Sebanyak 100 Kali Sebagai Bayaran

Publik Korea Selatan saat ini diguncangkan oleh skandal seks besar berkaitan dengan peristiwa bunuh diri aktris Jang Ja-yeon pada Maret, dua tahun lalu. Beberapa hari lalu, para penggila internet mengungkap daftar 31 nama pengusaha yang telah menjadi ‘tamu’ Ja-yeon.

Beberapa nama itu adalah Presiden Direktur Chosun Journal, Bang Sang-hoon; Wakil Presiden Direktur Sports Chosun, Bang Myung-hoon; bos Lotte, Shin Kyuk-ho; bos Kolon, Lee Woong-ryeol; bekas produser drama stasiun televisi KBS dan Presiden Direktur Olive 9, Go Dae-hwa; produser drama All My Love KBS, Jun Chang-geun; produser drama KBS, MBC, dan SBS, Jung Seho. Ja-yeon juga dipaksa melayani Produser Drama KBS, Boys Before Flower, Jun Gi-sang dan penata musik Boys Before Flowers, Playful Kiss, Goong, Perfect Couple, Song Byung-joon. Dua nama terarkhir ini kemungkinan menjadi jalan keterlibatan Ja-yeon dalam serial fenomenal Korea, Boys Before Flowers. Di serial yang mempopulerkan Lee Min-ho itu, Ja-yeon berperan sebagai Sunny.

Daftar nama itu diperoleh dari tulisan tangan artis tersebut yang frustrasi lantaran dipaksa pihak agensinya untuk melayani mereka. Polisi yang menyelidiki kasus bunuh diri itu menemukan daftar nama itu berada di antara 230 dokumen surat Ja-yeon kepada teman-temannya.

Tentu saja ada penyangkalan langsung untuk mengklarifikasi kabar itu. Hari ini waktu Korea, Chosun Journal mengatakan bahwa bos mereka tidak terlibat dalam tragedi itu. “Nama presiden direktur Chosun Journal yang disebut dalam daftar itu sebenarnya bekas presiden direktur Sports Chosun. Alasan mengapa Jang Ja-yeon menulis Chosun Journal itu karena pimpinan agensinya yakni Kim Jong-seung memaksa menyebut bekas bos Sports Chosun itu sebagai bos kami,”demikian ditulis dalam surat bantahan itu.

Stasiun televisi SBS tiga hari lalu dalam program 8 O’clock News mengungkapkan ada 50 kontainer yang berisi 230 dokumen tulisan tangan Ja-yeon. Dalam dokumen dengan judul Snow itu menggambarkan cerita yang tidak terungkap dari selebritas itu. “Polisi yang menginvestigasi kasus itu menemukan fakta-fakta ini tapi memilih mengabaikannya. Jang Ja-yeon meminta pembalasan melalui dokumen itu,”demikian dikatakan oleh pembaca berita itu.

Program itu juga memberitakan Jang Ja-yeon dipaksa melayani 31 orang sebanyak seratus kali.

Gathan Shaleh Hilabi Suami Dina Lorenza Setelah Selesai Rehab Narkoba Dipanggil Polisi Karena Dugaan Jual Beli Senjata Api

Suami aktris Dina Lorenza, Gathan Shaleh Hilabi, harus berhadapan dengan hukum. Ia dilaporkan Abdul Hakim Alkitiri lantaran dituding telah melakukan penggelapan uang dan penipuan terkait jual-beli senjata api.

Merasa tak ada niatan baik dari Gathan, melalui kuasa hukumnya, Rosyid Balfas, Abdul telah melaporkan ke Polda Metro Jaya pada 15 Februari 2011. Dalam surat laporan bernomor 526/K/II/2010/SPK UNIT ‘I’, Abdul melaporkan Gathan dengan Pasal 378 tentang penipuan dan Pasal 374 tentang penggelapan.

Saat dihubungi Kompas.com via telepon selulernya di Jakarta, Jumat (25/2/2011), Rosyid membenarkan adanya laporan tersebut. Ia juga menjelaskan kronologi proses jual-beli senjata tersebut. “Jadi, sebenarnya berawal dari perkenalan mereka berdua di 2008. Lalu, Gathan menawarkan senjata api seharga Rp 40 juta lengkap dengan surat-suratnya. Klien kami tertarik dan transaksi pun berlangsung di antara keduanya,” ungkap Rosyid.

Jenis senjata yang dibeli berjenis handgun Baretta. Abdul telah mendapatkan senjatanya, tetapi tanpa dilengkapi surat-suratnya. “Pak Hakim diminta menunggu lumayan lama sampai tiga hingga empat minggu,” kata Rosyid.

Namun, karena khawatir memegang senjata tanpa surat resmi, lanjut Rosyid, kliennya memilih mengembalikan senjata api tersebut. “Akhirnya, senjata itu dibalikin ke Ghatan. Dan, dia janji senjatanya sekalian mau dibagusin, sampai pernya segala macam,” tandas Rosyid.

Alih-alih mendapatkan surat izin berikut senjata api yang diperbarui, Abdul justru menambahkan uang tunai sebesar Rp 19 juta kepada Gathan. “Tapi, surat enggak jadi juga dan senjatanya malah enggak balik,” ujar Rosyid.

Apakah Gathan diduga melakukan penjualan senjata api ilegal? Rosyid tak mau terlalu jauh menanggapi. “Kalau saya tidak sampai ke sana, saya kapasitasnya menarik kembali uang Pak Hakim dengan melaporkan pasal penipuan dan penggelapan. Kalau masalah terlibat atau enggak itu bukan kapasitas saya, tetapi itu wilayah kewenangan penyidik Polri,” ungkap Rosyid.

Atas laporan tersebut, pihak kepolisian telah memanggil Gathan guna penyelidikan lebih lanjut terkait laporan tersebut. “Polda sudah melakukan pemanggilan Jumat (25/2/2011) ini, tetapi dari pihak Gathan tidak ada yang datang,” tandas Rosyid.

Sementara itu, upaya kekeluargaan telah dilakukan, tetapi gagal. “Sudah berkali kali (proses kekeluargaan), bahkan sudah ketemu sama orangtua Gathan, tetapi nihil. Makanya klien saya kesal. Dari keluarga alasan lama karena Gathan menjalani rehab narkoba,” kata Rosyid.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Gathan dan Dina Lorenza belum bisa dimintai keterangannya. Telepon seluler mereka sampai saat ini belum bisa dihubungi.

Setelah sempat tidak memenuhi panggilan polisi karena mengikuti proses rehabilitasi narkoba, Gathan Shaleh Hilabi akhirnya mendatangi Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Rabu (2/3/2011).

Suami aktris Dina Lorenza itu menjalani pemeriksaan selama tiga jam dalam kasus dugaan penggelapan uang dan penipuan terkait jual beli senjata api.

“Dia datang ke Polda menjalani pemeriksaan dalam keadaan sehat,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Baharudin Djafar, Kamis (3/3/2011) di Jakarta.

Pada pemeriksaan tersebut, Gathan mengatakan tidak pernah terlibat dalam bisnis jual beli senjata api. Dia hanya mengaku pernah mempunyai usaha jasa penyaluran tenaga kerja Indonesia (TKI) di Jakarta.

Atas keterangan Gathan, penyidik berencana melakukan pemeriksaan terhadap saksi lain untuk membuktikan adakah unsur tindak pidana penipuan uang dan penggelapan itu. “Tapi, dia (Gathan) katakan tidak ada usaha jual beli senjata,” kata Baharudin.

Baharudin memastikan, tim penyidik memerlukan pembuktian dari keterangan saksi-saksi, tidak hanya mendengarkan. Pembuktian itu meliputi benarkah ada transaksi senjata api sesuai keterangan pelapor atau benarkah Gathan seorang pengusaha jasa penyaluran TKI.

Baharudin mengungkapkan, Abdul Hakim sebagai saksi pelapor melaporkan Gathan atas dugaan transaksi senjata api. Namun, akibat keterangan Gathan itu, penyidik akan mencari saksi lain untuk melengkapi laporan.

“Saat ini ada dua versi informasi yang dimiliki penyidik, yakni transaksi senjata api dan usaha penyalur TKI. Dua versi ini harus ditelusuri, tapi penyidik akan dahulukan versi yang diungkapkan oleh pelapor,” terang dia.

Hingga saat ini polisi belum menyita barang bukti dari Gathan.

Gathan sendiri dilaporkan Abdul Hakim Alkitiri ke Polda Metro Jaya pada 15 Februari 2011 dengan surat laporan 526/K/II/2011/SPK UNIT I. Abdul melaporkan Gathan dengan Pasal 378 KUHP tentang Penipuan dan Pasal 374 KUHP tentang Penggelapan. “Nilai kerugian pelapor mencapai Rp 59.000.500,” ungkap Baharudin.