Perang Bisnis Dibalik Kegagalan Konser Lady Gaga


Konser ratu pop dunia saat ini, Lady Gaga, memunculkan sejumlah pertanyaan. Apakah ini murni karena penolakan sejumlah organisasi massa atau ada persaingan bisnis?

Laporan utama Tempo edisi 28 Mei 2012 berjudul “Geger Lady Gaga” mencoba mengungkap hal tersebut. Di kalangan pelaku industri hiburan, berembus kabar bahwa kekalahan itu membuat Berlian, yang sahamnya dikabarkan milik Edhie Baskoro Yudhoyono, tak terima. Penolakan sejumlah organisasi itu hanya buntut. Soalnya, menurut seorang promotor band rock, mendatangkan Lady Gaga bisa menjadi ukuran perusahaan itu bisa mendatangkan artis siapa saja.

Direktur Keuangan Berlian Marcel Permadhi menyangkal tudingan ini. “Kami tak ikut tender dan kami punya konser sendiri,” ujarnya. Berlian, yang memboyong penyanyi David Foster ke Jakarta tahun lalu, akan menggelar konser boyband lawas, New Kids on the Block dan Backstreet Boys, dua hari sebelum pertunjukan Gaga. Konser dua grup ini akan digelar di Ancol, Jakarta Utara.

Keberhasilan Big Daddy memenangi tender konser Gaga tak lepas dari keuletan bosnya, Michael Rusli, melobi manajemennya. Jauh-jauh hari, September tahun lalu, ia mengontak agen Gaga agar sang penyanyi mau tampil di Jakarta. Itu pun tak mudah karena ada enam promotor lain yang memberi tawaran serupa.

Promotor lain yang ikut tender ini di antaranya Blade Indonesia dan Berlian Entertainment. Harga yang ditawarkan bervariasi, dari US$ 800 ribu hingga US$ 2 juta. (Baca: Perang Harga untuk Mendatangkan Lady Gaga) Big Daddy keluar sebagai pemenang karena mencantumkan testimoni artis-artis yang pernah didatangkannya selama tiga tahun.

Testimoni itu antara lain dari Linkin Park. Band rock asal Amerika Serikat ini mengaku tur di Stadion Gelora Bung Karno, September tahun lalu, sebagai konser terbaiknya di Asia. Rupanya, manajemen Gaga tertarik oleh portofolio ini. Pendekatan sejak awal menambah nilai plus. “Proses mendekati dan mendapatkannya sulit sekali,” kata Michael Rusli.

“Perjuangan” itu terbayar. Tiket sebanyak 52 ribu seharga Rp 465 ribu sampai Rp 2,25 juta sudah ludes. Jika jadi digelar, konser Gaga di Jakarta ini menjadi pertunjukan langsung terbesarnya di Asia. Karena Gaga merupakan artis pop yang sedang naik daun, keberhasilan ini akan mengangkat pamor Big Daddy di dunia hiburan. Apalagi, Big Daddy berencana masuk bursa saham dan menjual saham perdana (intitial public offering) kuartal IV 2012.

Orang pun menuduh ada yang berusaha menjegal Big Daddy. Namun, pihak Berlian Entertainment menolak mentah-mentah tudingan mereka menghambat konser itu. Direktur Keuangan Berlian Marcel Permadhi juga menyangkal Edhie Baskoro alias Ibas, anak bungsu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, berada di perusahaan mereka. “Cek saja aktanya, apa ada nama Ibas di sana,” katanya. Dalam akta pendirian perusahaan pada 24 November 2007 di notaris Sugito Tedjamulya, pendirinya hanya dua orang: Aditya Djanaka dan Chaeruddin Syah. PT Berlian Entertainment Indonesia didirikan dengan modal Rp 1 miliar.

Kantor Berlian memang satu lantai, di tingkat 32 gedung Sampoerna Strategic Square, dengan Yastra Group milik Ibas. Sejumlah pegawai dan petugas keamanan juga mengkonfirmasi kedatangan Ibas ke sana. “Beliau juga kan teman bos saya,” ujar seorang pegawai.

Marcel Permadhi mengakui dia kawan kuliah Ibas di Curtin University, Australia. Aditya Djanaka juga teman sebangku Agus Harimurti, kakak Ibas, di sekolah menengah pertama. Sejumlah sumber yang dekat dengan Cikeas menyebut Aditya sebagai tangan kanan Ibas dalam bisnis.

Menurut Marcel, hubungan bisnis dengan Ibas semata karena pertemanan–seperti ketika Berlian menjadi konsultan media Ibas saat ia menjadi calon anggota DPR dari daerah Pacitan, Jawa Timur. Tapi sejumlah pelaku industri hiburan mengaku tahu Berlian sebagai perusahaan milik suami Aliya Rajasa itu. “Sudah jadi rahasia umum di kalangan orang hiburan,” kata salah satunya.

Akhirnya, kekisruhan perizinan membuat manajemen Lady Gaga membatalkan konsernya di Jakarta. Mereka tak ingin konsernya dikurangi atau disensor. Perang harga antarpromotor terjadi saat mendatangkan artis papan atas. Itu pula yang terjadi saat mendatangkan Lady Gaga ke Indonesia. Hal tersebut dituturkan promotor Blade Indonesia dalam laporan utama majalah Tempo edisi 28 Mei 2012 berjudul “Geger Lady Gaga”.

Pada awal Januari lalu, Blade Indonesia mengontak agen penyanyi Lady Gaga di London. Namun, ditolak. Blade diminta mengontak Live Nation Entertainment. Rupanya, perusahaan penyelenggara pertunjukan berbasis di Los Angeles itu telah membeli hak tur Lady Gaga di Asia. Di Asia, Live Nation memiliki kantor di Hong Kong. Direktur Blade Indonesia Girindra P. Sutoyo menghubungi perusahaan yang juga mengelola tur Madonna tersebut. “Saat itu ternyata sudah banyak yang menawar,” katanya kepada Tempo pekan lalu.

Sebelum menggelar tur, agen artis lazimnya menghubungi promotor-promotor lokal untuk menjajakan kerja sama. Terhadap promotor yang menyatakan tertarik, agen membuka harga yang bisa ditawar. Saat itu, menurut Girindra, ada 5-6 promotor yang berminat menyelenggarakan konser Lady Gaga di Indonesia. Ia menolak menyebutkan angka penawaran yang diajukan agen. Yang jelas, menurut dia, ketika itu harga pembukaan sudah cukup tinggi. Setiap kali ia mengajukan penawaran, agen menjawab sudah ada yang memberi angka lebih tinggi.

Pada kali ketiga mengajukan angka dan ditolak, Girindra berhenti. Menurut dia, harga yang harus dibayar promotor untuk mendatangkan Lady Gaga tak lagi masuk akal. Berapa angka yang ditawarkan? Girindra mengunci mulut. Sejumlah sumber menyebut US$ 800 ribu atawa sekitar Rp 7,5 miliar. Girindra menampik. “Jauh lebih besar,” ujarnya. Kita tahu konser Lady Gaga kemudian dimenangi Big Daddy Entertainment.

Harga artis berkorelasi dengan harga tiket. Semakin tinggi tarif dibayar promotor ke agen, semakin mahal harga tiket yang dibebankan ke penonton. Ia membandingkan, pada 2008, harga tiket konser paling murah Rp 100 ribu, dan sekarang Rp 400 ribu. “Harga tiket konser sekarang mahal-mahal,” katanya.

Dewi Gontha, Presiden Direktur PT Java Festival Production, mengatakan bisnis konser musik kini sedang seru-serunya. Persaingan memicu jorjoran harga. Promotor mengajukan harga setinggi mungkin supaya bisa memenangi perebutan. Pada akhirnya, ia menilai, yang diuntungkan hanya artis dan bukan promotor atau fan. “Ini membuat artis berpikir bisa menuntut fee tinggi bila datang ke Indonesia,” ujarnya. Cerita selengkapnya bisa dibaca dalam laporan utama majalah Tempo versi iPad berjudul “Geger Lady Gaga”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s