Monthly Archives: November 2013

Anastasia Florina Limasnax Alias Flo Istri Piyu Mengamuk Di Rumah Vika Setelah Mabuk Semalaman Bersama Adiguna Sutowo

Saat Anastasia Florina Limasnax atau Flo mengamuk di rumah Vika Dewayani, Adiguna Sutowo yang juga suami dari Vika rupanya ada di dalam mobil Mercy B 712 NDR yang dipakai Flo untuk mengamuk. Namun, saat itu Adiguna tidak keluar dari dalam mobil karena dalam keadaan teler. “Jadi waktu kejadian itu, Adiguna ada di dalam mobil itu dan tidak keluar dari dalam mobil,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (8/11/2013).

Rikwanto menjelaskan, Adiguna yang saat itu duduk di jok belakang Mercy tidak turun dari mobilnya karena sedang mabuk berat. “Kan dia mabuk berat, dia nggak keluar,” imbuh Rikwanto. Saat istri dari Piyu ini mengamuk, Dalyono mencoba menghentikannya. Namun, upaya dia tidak berhasil, sehingga akhirnya ia menghubungi Hendry, anak buah Adiguna. “Sekitar lima belas menit kemudian, Hendry datang dengan menggunakan mobil Honda City,” ujar Rikwanto. Hendry kemudian berupaya menenangkan Flo. Saat itu, Flo berupaya untuk mengambil mobil Hendry untuk kembali mengamuk, namun upaya itu berhasil dicegah Hendry.

“Hendry berhasil membujuk Flo hingga akhirnya mereka berempat (Dalyono, Hendry, Adiguna dan Flo) pergi meninggalkan rumah Vika dengan menggunakan mobil Hendry,” tukasnya. Setelah mabuk bareng di Bengkel Cafe, SCBD, Jaksel, pada Sabtu (26/10) dini hari, Adiguna Sutowo naik ke mobil Mercy B 712 NDR bersama Anatsasia Florina Limasnax atau Flo, dengan disopiri oleh Dalyono. Mereka bertiga kemudian menuju ke rumah Vika Dewayani, istri kedua Adiguna, di Pulomas Barat, Pulogadung, Jakarta Timur.

Dalam perjalanan dari Bengkel Cafe ke Pulomas Barat selama setengah jam itu, Dalyono sempat mendengar Adiguna dan Flo berbincang dengan suara yang keras. “Dalam perjalanan sebelum kejadian itu, Flo dan Adiguna duduk berdua di belakang, berbicara agak keras menggunakan bahasa inggris,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (8/11/2013).

Kepada penyidik, sopir Adiguna itu mengaku tidak mengetahui apa yang menjadi topik perbincangan antara majikannya dengan putri dari pengusaha Frans Limasnax ini. “Dalyono juga tidak tahu karena dia tidak tahu artinya (perbincangan dalam bahasa inggris itu),” imbuh Rikwanto. Setelah tiga puluh menit perjalanan, mereka kemudian tiba di rumah Vika. Di situ, Dalyono kemudian turun dari mobil untuk meminta satpam agar membukakan pintu portal.

“Saat itu Flo kemudian mengambil alih kemudi. Dalyono mencoba menghentikan, tetapi Flo tidak mau turun,” ungkapnya. Saat itu lah, Flo kemudian menabrakkan mobil milik Indriyani, sitri pertama Adiguna ke pagar dan tiga mobil mewah milik Vika, serta dapur rumah. Flo juga mengamuk dan berteriak-teriak, memanggil nama Vika untuk keluar.

Pihak Kepolisian Daerah Metro Jaya akhirnya memastikan bahwa pelaku perusakan di rumah Vika Dewayani, istri kedua Adiguna Sutowo, adalah Anastasia Florina Limasnax atau Flo yang tak lain merupakan istri mantan gitaris Padi, Piyu. Kepastian itu diperoleh setelah polisi memeriksa dua anak buah Adiguna, Hendry dan Dalyono.

“Menurut keterangan Dalyono yang dia kenal dan dia saksikan di TKP, F itu adalah Anastasia Florina Limasnax atau Flo,” jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (8/11/2013). Dalyono (sebelumnya ditulis Daryono-red) adalah sopir Adiguna, yang juga ada di lokasi kejadian ketika Flo mengamuk dan menabrak 3 mobil, dapur dan pagar rumah Vika. Dalyono diperiksa subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya pada Kamis (7/11) malam.

Rikwanto menjelaskan, dalam pemeriksaan, penyidik juga memperlihatkan foto seorang wanita. Kepada penyidik, Dalyono menyatakan bahwa ia mengenal wanita dalam foto itu sebagai Flo. “Dalyono dan Hendry kenal dengan foto itu, itu Flo atau Floren yang ada di TKP,” imbuhnya Untuk motif perusakan, polisi belum mengetahuinya. Karena Adiguna dan Flo sendiri belum bisa dimintai keterangan polisi. “Untuk saat ini, saudari Flo, F masih dalam pencarian. Sejak kejadian, Flo tidak bisa ditemukan,” tukasnya.

Sebelum mengamuk dan melakukan perusakan di rumah Vika Dewayani, Anastasia Florina Limasnax atau Flo bertemu dengan Adiguna Sutowo di Bengkel Cafe, kawasan SCBD, Jaksel. Di situ, keduanya minum hingga mabok. Hal ini terungkap setelah penyidik memeriksa Dalyono, sopir Adiguna, yang juga ada di lokasi kejadian pada 26 Oktober dini hari lalu. Menurut Dalyono, sebelum kejadian itu, ia memang menyopiri majikannya.

“Menurut Dalyono, Adiguna berangkat dari rumahnya di Kamboja, Menteng bersama Dalyono jam 20.00 WIB. Kemudian mereka mampir ke apartemen Four Season,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (8/11/2013). Dalyono mengantar majikannya menggunakan mobil Mercy B 712 NDR. Dari Apartemen Four Season, Kuningan selama setengah jam.

Dari situ, Dalyono mengantar Adiguna ke Bengkel Cafe, SCBD, Jaksel. Di situ Adiguna sampai jam 01.30 WIB dan Dalyono jemput menunggu majikannya di luar. “Setelah itu, saudara Adiguna keluar bersama Flo dari bengkel dalam keadaan mabuk,” imbuhnya. Flo ikut masuk ke mobil dan duduk di belakang bersama Adiguna. Dari Bengkel Cafe, mereka disopiri Dalyono ke rumah Vika. Di situ lah Flo kemudian mengamuk.

Adiguna Sutowo dengan Anastasia Florina Limasnax atau Flo, pelaku perusakan di rumah istri Adiguna, Vika Dewayani, rupanya sudah saling mengenal. Keduanya sering bertemu selama 2 bulan terakhir ini. Saat diperiksa penyidik, sopir Adiguna, Dalyono mengaku mengenal istri gitaris band ‘Padi’, Piyu itu sejak 7 bulan lalu.

“Dalam 2 bulan terakhir lebih intensif lagi karena (Flo) sering bertemu Adiguna,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (8/11/2013). Rikwanto mengatakan pihaknya belum bisa memastikan ada hubungan apa antara Flo dan Adiguna ini. Apakah keduanya punya hubungan kedekatan spesial?

“Belum tahu, karena saksi (Dalyono) juga hanya sebatas mengantar majikannya saja,” ucap Rikwanto. Saat ini, pihak kepolisian masih berupaya mencari Flo. Penyidik Subdit Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya selanjutnya akan melayangkan panggilan kedua kepada Adiguna untuk dimintai keterangan sebagai saksi. “Pemanggilan keduanya minggu depan,” tukas Rikwanto.

Musisi Piyu telah diperiksa selama satu jam seputar kasus pengrusakan di rumah istri kedua Adiguna Sutowo, Vika Dewayani. Keterangan Piyu berubah-ubah dan diduga mengandung kejanggalan, seperti hal ini: Piyu dicecar 19 pertanyaan oleh penyidik, termasuk tentang sang istri Anastasia Florina Linasmax yang kini menyandang status tersangka kasus pengerusakan 3 mobil mewah pada 6 November 2013.

Atas kesaksian Piyu, aparat kepolisian mencium sejumlah kejanggalan dan terbuka peluang akan meminta konfirmasi mantan personel Grup Band Padi itu lagi.

Berikut 3 kejanggalan keterangan Piyu:
Di hadapan penyidik, Piyu mengaku terakhir bertemu dengan Floren pada 25 Oktober 2013. Piyu saat itu pulang ke kediamannya pukul 19.30 WIB. “Dia katakan waktu dia pulang sudah ada istrinya. Jam 20.00 dia tidur sama istri dan anaknya, istri tidur pakai piyama warna pink,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (7/11/2013). Namun, pada pertanyaan selanjutnya, penyidik mencoba memperjelas kronologi keberadaan istrinya pada saat sebelum hingga sesudah kejadian perusakan di rumah Vika Dewayani, istri Adiguna Sutowo. Pada pertanyaan ini, Piyu menyampaikan jawaban yang berbeda dari keterangannya pada poin sebelumnya. “Piyu justru beri jawaban malam jam 20.00 itu dia tidur sendirian. Saat tidur, dia baru menyadari istrinya pulang dan besok pagi istrinya kerja,” lanjutnya.

Saat dimintai keterangan penyidik, Piyu mengaku berkomunikasi dengan Floren melalui telepon genggam pada 27 Oktober 2013. Piyu sendiri mengetahui kasus tersebut dari berita di televisi, yang menyebut-nyebut istrinya sebagai pelakunya. Namun, Piyu selanjutnya memberikan keterangan yang berbeda. Ia mengaku berkomunikasi dengan istrinya via SMS, menanyakan soal kasus perusakan di rumah Vika kepada Flo pada tanggal yang sama. “Dia tanyakan kepada istrinya apa itu kamu (yang mengamuk di rumah Vika) dan dijawab istrinya ‘tidak’,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (7/11/2013). Setelah itu, Piyu mengaku tidak berkomunikasi lagi dengan Flo hingga saat ini. Saat ditanya ada permasalahan apa antara Piyu dan Flo, Rikwanto mengatakan, “Dia (Piyu) tidak tahu ada masalah apa, yang jelas tidak bisa dihubungi,” ujar Rikwanto.

Saat jumpa pers pertama, Piyu menyebut istrinya mengeluh sakit jantung. Bahkan Piyu sampai harus menyita sejumlah peralatan komunikasi agar Flo terhindar dari pemberitaan. “Istri saya baru melakukan operasi di Singapura. Kemarin dia itu medical check up dia mengeluh jantungnya sakit. Saya minta dia tidak mendengar berita apa pun,” terang Piyu. Dalam jumpa pers kedua, Piyu kembali menerangkan penyakit istrinya. Dia menyebut ada blok di jantung. Hingga saat itu, masih dalam masa pemulihan. Operasi digelar sekitar tanggal belasan bulan Oktober. “Terpengaruhlah secara mental, secara fisik,” terang Piyu soal kondisi Flo. Kepada polisi, Piyu tak menyebut soal sakit jantung Flo. Menurut Rikwanto, Piyu menyebut istrinya sempat keluar malam pada tanggal 25 Oktober dan baru kembali setelah dia tertidur sekitar dinihari. “Kemudian istrinya berangkat kerja dan tidak kembali lagi,” ujar Rikwanto. Pagi harinya, Flo langsung meninggalkan rumah dan tak pernah kembali lagi. Komunikasi SMS antara Piyu dan Flo juga tak pernah menyinggung soal kondisi kesehatan. Komunikasi antara mereka pun tak terjalin lagi sejak 28 Oktober 2013.

Roy Suryo Berulah Lagi Di Pesawat Garuda dan Membahayakan Penumpang Lain Dengan Membawa 6 Bagasi Di Pesawat

Roy Suryo kembali membuat ulah di pesawat. Kali ini dia berulah dalam penerbangan Garuda Indonesia dari Yogyakarta ke Jakarta, pada Ahad, 20 Oktober 2013 pagi. Insiden terjadi antara Menteri Pemuda dan Olahraga itu dengan awak kabin Garuda.

Menurut sumber Tempo, waktu itu Menteri Roy dan keluarganya naik di kelas bisnis maskapai pelat merah itu. Roy sendiri membawa sekitar enam tas ke kabin. Awak kabin yang melihat Roy membawa banyak tas memberi tahu bahwa Roy hanya bisa membawa dua tas, sesuai peraturan penerbangan. Namun, Roy ngotot. “Ia meminta awak kabin itu untuk menunjukkan peraturannya,” ujar seorang penumpang yang menjadi saksi mata peristiwa itu. Untuk kasus ini, inilah tanggapan Garuda.

Menteri Roy akhirnya dihadapi oleh kepala kabin. Namun, Roy ngotot tetap bersama barangnya. Kepala kabin mengalah. Roy diminta meletakkan barangnya di kursi pesawat bisnis yang masih kosong. Kepala kabin juga meminta Roy mengikat tasnya dengan seatbelt, seperti penumpang. Ketika dimintai konfirmasi perihal soal ini, Roy mengatakan ini bukan urusan keluarga dan bagasi. “Masak saya mengurusi bagasi,” kata Roy melalui pesan pendek ketika menjawab klarifikasi Tempo, Kamis, 31 Oktober 2013. “Tidak ada masalah, kecuali ada yang berkata bohong.”

Aksi Roy Suryo ini menuai sejumlah kecaman. Ini bukan insiden pertama Roy Suryo di pesawat terbang. Ketika masih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, pada Maret 2011, Roy membuat keributan saat akan naik pesawat Lion Air dari Bandara Soekarno Hatta tujuan Yogyakarta. Namun, waktu itu Roy mengakui kesalahannya. Ia turun dari pesawat. “Saya mohon maaf sudah mengganggu penerbangan Anda,” katanya sebelum turun.

Ini juga bukan insiden pertama yang dialami awak Garuda. Dua hari lalu, Wakil Ketua Ombusdman RI, Azlaini Agus, disebut-sebut telah menampar petugas ground handling maskapai Garuda Indonesia Airlines, Yana Novia Yana adalah karyawan PT Gapura Angkasa Pekanbaru yang saat itu bertugas melayani penumpang Garuda.

Menpora Roy Suryo meradang ketika banyak pengguna Twitter yang menegurnya terkait pemberitaan dia marah-marah di dalam pesawat Garuda Indonesia pada Ahad, 20 Oktober 2013. Roy langsung ngetwit soal pemberitaan tersebut lewat akun Twitternya @KRMTRoySuryo “Kalau tidak tahu masalah sebaiknya jangan TwitSal (=Twit ngAsal) Alias AsBun, Bro. Media yg percaya Issue (=Fitnah) sangat Lebay,” kata Roy membalas ritwit dari akun @fadjroel mengenai pemberitaan di Tempo.co

Lalu Roy kembali ngetwit. “Ya Bro. Tidak ada Saksi, Bukti & bahkan Garuda-pun tidak ada laporan ttg hal tsb. Saya heran, Rombongan resmi ber-8 kok disebut 1,” kata menteri berkumis ini. Roy mencoba meluruskan berita tersebut ketika dia bersama istrinya membawa enam tas ke dalam kabin meski telah dilarang petugas Garuda. Menurut Roy, pemberitaan tersebut terbilang lebay. “Garuda Indonesia sendiri heran ada yg LEBAY menyoal 8 orang bawa 6 cabin,” katanya.

Pernyataan itu berbeda dengan fakta yang dituturkan sumber Tempo. Menurut dia, setelah Roy ngotot tetap bersama barangnya, kepala kabin mengalah. Kepala kabin juga meminta Roy mengikat tasnya dengan seatbelt, seperti penumpang. Sejumlah penumpang melihat aksi itu merasa heran.

Salah satu follower Roy, @ari_mute mempertanyakan kebenaran berita itu. “Kalau memang hoax..kok ngga dilaporin ke dewan pers pak..” Dalam hitungan menit, Roy kembali membalas. “Bukan hanya ke Dewan Pers, kalau media LEBAY sudah memuat kabar tanpa klarifikasi & cenderung FITNAH, ada konsekuensinya.”

Menurut sumber Tempo, waktu itu Menteri Roy dan keluarganya naik di kelas bisnis maskapai pelat merah itu. Roy sendiri membawa sekitar enam tas ke kabin. Awak kabin yang melihat Roy membawa banyak tas memberi tahu bahwa Roy hanya bisa membawa dua tas, sesuai peraturan penerbangan. Namun, Roy ngotot. “Ia meminta awak kabin itu untuk menunjukkan peraturannya,” ujar seorang penumpang yang menjadi saksi mata peristiwa itu.

Ketika dimintai konfirmasi perihal soal ini, Roy mengatakan ini bukan urusan keluarga dan bagasi. “Masak saya mengurusi bagasi,” kata Roy melalui pesan pendek ketika menjawab klarifikasi Tempo, Kamis, 31 Oktober 2013. “Tidak ada masalah, kecuali ada yang berkata bohong.”

Roy Suryo kembali membuat ulah di pesawat. Kali ini dia berulah dalam penerbangan Garuda Indonesia dari Yogyakarta ke Jakarta pada Ahad, 20 Oktober 2013 pagi. Insiden terjadi antara Menteri Pemuda dan Olahraga itu dengan awak kabin Garuda. Menurut sumber Tempo, waktu itu Menteri Roy dan keluarganya naik di kelas bisnis maskapai pelat merah itu. Roy sendiri membawa sekitar enam tas ke kabin. Awak kabin yang melihat Roy membawa banyak tas memberi tahu bahwa Roy hanya bisa membawa dua tas, sesuai peraturan penerbangan. Namun, Roy ngotot. “Ia meminta awak kabin itu untuk menunjukkan peraturannya,” ujar seorang penumpang yang menjadi saksi mata peristiwa itu.

Ajudan Roy, Wenny Pangerapan, menguraikan bahwa rombongan Kemenpora terdiri dari enam orang dan berangkat pukul 12.15 WIB pada 20 Oktober lalu. Menteri Roy beserta istri duduk di kelas bisnis dan empat lainnya di kelas ekonomi. Wenny mengatakan sengaja membawa enam tas ke kabin lantaran berisi kamera. “Kalau di bagasi takut kamera bisa terbentur dan rusak,” ucapnya. Namun, ternyata kabin bisnis dan ekonomi oleh pramugari dibilang penuh dan petugas menawarkan barang disimpan di bagasi.

Wenny berkukuh agar tas tetap disimpan di kabin karena kalau mengikuti aturan satu penumpang dapat satu kabin maka rombongan Kemenpora mendapatkan jatah enam kabin. Walhasil, setelah berdiskusi akhirnya petugas memutuskan satu tas ditaruh di kabin bisnis. Sementara tiga tas dipaksakan di kelas ekonomi bagian belakang dan satu tas lagi disimpan di kursi kosong ekonomi. “Itu pun atas izin pihak Garuda,” ucap Wenny.

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mengklaim belum mendengar kabar mengenai ulah Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo yang ngotot membawa enam tas ke kabin. “Saya cek belum ada laporannya soal itu,” kata juru bicara Garuda Iksan Rosan ketika dihubungi, Kamis, 31 Oktober 2013.

Iksan belum bisa berkomentar banyak terkait isu insiden tersebut. Apakah enam tas itu milik Roy semua atau bersamaan dengan penumpang lain. “Enam tas misalnya itu punya sendiri atau ada beberapa orang yang tasnya bareng,” ujarnya. Namun, ketika ditanyai apakah benar Roy Suryo menggunakan jasa Garuda pada pekan lalu, ia juga belum bisa memastikan apakah iya atau tidak. Ia belum merespon pertanyaan Tempo hingga berita ini ditulis.

Sebelumnya diisukan Roy Suryo kembali membikin ulah di pesawat. Kali ini dalam penerbangan Garuda dari Yogyakarta ke Jakarta pada Ahad, 20 Oktober 2013 pagi. Insiden terjadi antara Menteri Pemuda dan Olahraga itu dengan awak kabin Garuda. Waktu itu Menteri Roy dan keluarganya naik di kelas bisnis maskapai pelat merah itu. Roy sendiri membawa sekitar enam tas ke kabin. Awak kabin yang melihat Roy membawa banyak tas memberi tahu bahwa Roy hanya bisa membawa dua tas, sesuai peraturan penerbangan. Namun, Roy ngotot. “Ia meminta awak kabin itu untuk menunjukkan peraturannya,” ujar seorang saksi mata peristiwa itu.

Menteri Roy akhirnya dihadapi oleh kepala kabin. Namun, Roy ngotot tetap bersama barangnya. Kepala kabin mengalah. Roy diminta meletakkan barangnya di kursi pesawat bisnis yang masih kosong. Kepala kabin juga meminta Roy mengikat tasnya dengan seatbelt, seperti penumpang.

Ini bukan insiden pertama Roy Suryo di pesawat terbang. Ketika masih menjadi anggota Dewan, pada Maret 2011, Roy membuat keributan saat akan naik pesawat Lion Air dari Bandara Soekarno Hatta tujuan Yogyakarta. Namun, waktu itu Roy terima salah. Ia turun dari pesawat. “Saya mohon maaf sudah mengganggu penerbangan Anda,” katanya sebelum turun.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia menyesalkan sikap maskapai penerbangan Garuda Indonesia yang memilih menuruti rongrongan Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo. Dalam penerbangannya ke Jakarta pada 20 Oktober lalu, Roy memaksa diizinkan membawa enam tas ke atas kabin.

Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, menilai diberikannya keistimewaan untuk Roy adalah preseden buruk. “Dengan mendapat privilege, Roy akan mengulang kembali perbuatannya. Sikap Garuda juga bisa jadi preseden buruk bagi penumpang lain,” ujarnya saat dihubungi, Kamis, 31 Oktober 2013.

Menurut Tulus, kru kabin Garuda mestinya tegas menegakkan aturan penerbangan, tak peduli penumpang tersebut pejabat atau bukan. Terlebih aturan tersebut berkaitan dengan keselamatan penerbangan. Dikhawatirkan juga akan makin banyak pejabat yang menyalahgunakan kekuasaannya untuk mendapat perlakuan istimewa di ruang publik.

“Awak kabin mestinya tegas ke konsumen untuk mematuhi aturan, baik kecil maupun besar. Apalagi banyak penumpang yang mengalami culture shock naik pesawat karena terbiasa naik bus maupun kereta,” kata dia.

Pengurus YLKI lainnya, Sudaryatmo, menambahkan, sebagai hukuman untuk Garuda, maskapai pelat merah itu mesti transparan mengumumkan kepada publik soal perlakuan khususnya untuk Roy. “Jelaskan juga kenapa Roy bisa dapat privilege semacam itu. Jadi ke depannya, kalau ada penumpang biasa minta hal serupa, Garuda tidak boleh protes.”

Roy Suryo kembali berulah di pesawat. Kali ini terjadi dalam penerbangan dari Yogyakarta ke Jakarta 20 Oktober 2013, dengan maskapai Garuda Indonesia. Roy, yang duduk di kelas bisnis, membawa enam tas ke kabin. Awak kabin yang melihat sempat melarang. Sebab, aturan penerbangan menyatakan penumpang hanya boleh membawa dua tas ke kabin.

Namun, Roy ngotot. Ia meminta awak kabin menunjukkan peraturan yang melarang penumpang mengangkut lebih dari dua tas ke kabin. Kepala kabin yang meladeni Roy akhirnya mengalah. Roy diminta meletakkan bawaannya di kursi pesawat bisnis yang masih kosong dan mengikatnya dengan sabuk pengaman, layaknya penumpang