Monthly Archives: Maret 2015

Olga Syahputra Meninggal

Olga Syahputra dikabarkan meninggal pada Jumat sore, 27 Maret 2015. Kabar duka tersebut disampaikan oleh Vera, manajer Olga, melalui media sosial Twitter. “Innalillahi wa inalillahi rojiun telah berpulang kesayangan mak, Olga Syahputra jam 5.17 sore di hari Jumat. Minta doa buat kesayangan mak,” demikian penjelasan Vera dalam akun Twitternya, @MakVeraZanobia.

Olga yang dikenal sebagai komedian, pemain film, dan penyanyi, ini meninggal di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, dalam usia 32 tahun. Selama setahun terakhir, Olga dirawat di rumah sakit tersebut karena mengidap penyakit meningitis. Pesan yang ditulis manajer Olga tersebut banyak di-share oleh follower-nya dan penggemar Olga.

Komedian Denny “Cagur” Wahyudi sempat tak percaya kabar soal kematian koleganya di dunia hiburan, Olga Syahputra. Ia pun datang ke rumah orang tua Olga di Jalan Kresna Raya Nomor 4, Jakarta Timur.

“Ternyata kabar itu benar,” kata dia, Jumat, 27 Maret 2015. Denny datang mengenakan peci dan baju koko hitam. Menurut dia, Olga merupakan inspirasi baginya. Khususnya, kata dia, semangat pembawa acara musik ‘Dahsyat’ itu untuk sembuh dari penyakitnya. “Dia tipe pekerja keras dan selalu semangat dalam kondisi apapun,” ujarnya.

Olga meninggal pada Jum’at sore, 27 Maret, setelah setahun dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth. Dia disebut menderita Meningitis. Pria kelahiran Jakarta, 8 Februari 1983 itu terkenal dengan gaya kemayu. Tingkah kocak dan sifat lugu yang lekat di dirinya membuat Olga dicintai banyak penggemar.

Komedian dan presenter itu membangun karir dari bawa. Olga pernah menjadi asisten penyanyi dangdut Rita Sugiarto. Setelah kira-kira setahun bersama Rita, kemudian Olga mulai banyak mendapatkan tawaran kerja, mulai sinetron Si Yoyo hingga menjadi pembawa acara Ceriwis bersama Indra Bekti dan Indy Barends.

Orang makin mengenal sosok Olga yang terlihat heboh dan kocak di televisi. “Meski dia sudah terkenal, kita masih sering kontak. Dia sangat luar biasa,” kata diva dangdut itu. Menurut Rita, sejak dari dulu Olga memang suka bicara ceplas-ceplos . “Dia apa adanya. Ceplas, ceplos. Tapi belakangan ia juga mulai tampak lebih dewasa, tentu makin bisa menjaga, ” kata Rita kepada Tempo, Ahad 11 Mei 2014.

Kabar meninggalnya presenter kocak Olga Syahputra seketika mengejutkan fan. Olga dikabarkan meninggal pada Jumat sore, 27 Maret 2015. Seketika ucapan belasungkawa para penggemar Olga membanjiri lini masa Twitter. Bahkan tagar #RIPOlgaSyahputra menjadi trending topic hari ini. “Yang kita perlukan adalah mengirim doa minimal Alfateha untuk Yoga Syahputra.#RIPOlgaSyahputra,” cuit salah satu penggemar Olga.

“Puasa tahun ini tanpa canda tawamu kak Olga, sahur dan buka tanpa candamu,” cuit yang lain. Olga dikabarkan meninggal di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, pada usia yang terbilang muda: 32 tahun. “Innalillahi wa inalillahi rojiun telah berpulang kesayangan mak olga syahputra di jam 5.17 sore di hari jumat. minta doa buat kesayangan mak,” cuit Mak Vera, manajer Olga, lewat akun Twitter-nya, @MakVeraZanobia.

Olga Syahputra meninggal pada Jumat sore, 27 Maret 2015, di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura. Kabar tersebut disampaikan oleh manajer Olga, Vera, dalan akun media sosial Twitter miliknya.

“Innalillahi wa inalillahi rojiun telah berpulang kesayangan mak olga syahputra di jam 5.17 sore di hari jumat. minta doa buat kesayangan mak,” tulis Vera diakun Twitternya @MakVeraZanobia. Olga yang punya nama asli Yoga Syahputra hampir satu tahun belakangan menderita sakit meningitis. Olga wafat diusia 32 tahun. Pria kelahiran Jakarta, 8 Februari 1983 itu dikenal sebagai artis serba bisa. Bukan cuma melawak, Olga juga terjun di dunia tarik suara, akting di sejumlah film dan sinetron, serta menjadi pembawa acara hiburan di stasiun televisi dan off air.

Karena itulah Olga menyabet sejumlah penghargaan dari tahun 2009 sampai 2013. Pada 2009, Olga mengantongi tiga penghargaan yakni sebagai Presenter Musik Variety Show Terfavorit, dan Pelawak Terfavorit di ajang Panasonic Award, serta Pembawa Acara Favorit di Indonesia Kids Choice Award.

Selanjutnya tahun 2010, Olga memenangi penghargaan Pelawak Terfavorit di ajang Panasonic Gobel Awards. Tahun 2011, Olga mendapat dua penghargaan sebagai Presenter Musik Variety Show Terfavorit dari Panasonic Gobel Awards, dan Pembawa Acara Favorit di Indonesia Kids Choice Awards. Pada tahun 2012 dan 2013, Olga mendapat dua penghargaan dari Panasonic Gobel Awards. Olga dianugerahi sebagai Presenter Talent Show Terfavorit tahun 2012, dan Pelawak Terfavorit pada tahun 2013.

Meninggalnya komedian sekaligus presenter Olga Syahputra, 32 tahun, membuat rumah orang tuanya di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, disesaki ratusan pelayat. Para pelayat sebagian besar adalah tetangga dan kerabat Olga. Seorang pelayat yang juga tetangga orang tua Olga, Rina, mengatakan mendapat informasi ihwal meninggalnya Olga dari dari penjaga rumah orang tua Olga, Nur Rohman dan Nurhida. “Saya terima kabar pukul 16.30,” kata Rina kepada Tempo, Jumat, 27 Jumat 2015

Olga meninggal setelah setahun dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth. Dia disebut menderita meningitis. Paman Olga, Ariswan, menyebut jenazah baru akan tiba di Indonesia Sabtu pagi, 28 Maret 2015. “Rencana akan dimakamkan di Pemakaman Pondok Kelapa,” ujarnya. Di rumah orang tua Olga, kini digelar pengajian. Di ruang tamu rumah tersebut, telah disiapkan tempat tidur beralaskan kain batik yang akan dipakai untuk membaringkan jenazah Olga.

Olga Syahputra dikabarkan meninggal pada Jumat sore, 27 Maret 2015, di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura. Kabar tersebut dibenarkan oleh manajer Olga, Vera, lewat akun media sosial Twitter miliknya. “Innalillahi wa inalillahi rojiun telah berpulang kesayangan mak olga syahputra di jam 5.17 sore di hari jumat. minta doa buat kesayangan mak,” tulis Vera di akun Twitter-nya, @MakVeraZanobia.

Presenter yang punya nama asli Yoga Syahputra itu memang hampir satu tahun belakangan ini menderita sakit meningitis. Ketika dia dirawat di Singapura, pernah beberapa kali muncul isu dia meninggal. Isu tersebut selalu dibantah keluarga dan manajer Olga. Namun hari ini Olga berpulang pada umur 32 tahun. Pria kelahiran Jakarta, 8 Februari 1983, itu terkenal dengan gayanya yang kemayu. Tingkah kocak dan sifat lugu yang lekat kepadanya membuat dia dicintai banyak penggemar. Selain berkecimpung di dunia lawak, Olga membintangi sejumlah film layar lebar.

Film berjudul Tina Toon dan Lenong Bocah the Movie yang tayang pada 2004 menjadi film pertama Olga. Tahun 2008 bisa disebut sebagai tahun larisnya Olga di dunia film. Sebab, ada lima judul film yang dia bintangi selama 2008. Film-film tersebut yakni Susahnya Jadi Perawan, Mau Lagi?, Basahhh…, Cintaku Selamanya, dan Mas Suka, Masukin Aja Besar Kecil It’s Okay.

Selanjutnya, pada 2011-2014, Olga membintangi satu judul film per tahun. Film Pacar Hantu Perawan dia bintangi pada 2011, Kung Fu Pocong Perawan (2012), Taman Lawang (2013), dan Olga & Billy Lost in Singapore (2014). Selain menjadi bintang film, Olga membintangi sejumlah sinetron, seperti Senandung Masa Puber, Kawin Gantung, Si Yoyo, Doo Bee Doo, Tarzan Cilik, dan Mister Olga.

Kronologi Meninggalnya Yanni ‘Trio Libels’

Setelah pesawat Sriwijaya dengan nomor penerbangan SJ 071 mendarat di Terminal B Bandara Soekarno-Hatta, Yani Djunaedi atau Yanni Libels langsung masuk ke toilet Bandara. “Masuk ke toilet dan sempat duduk sebentar di toilet. Dia mengeluh sakit dan minta tolong petugas toilet,” kata Chief Security Terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta, Dirja, Rabu, 25 Maret 2015. Petugas cleaning service segera melapor ke petugas keamanan yang kemudian menindaklanjutinya dengan melapor ke Kantor Kesehatan Pelabuhan Soekarno-Hatta. Bersama-sama mereka membawa Yanni Libels ke klinik KKP yang ada di Terminal IB dengan menggunakan kursi roda.

Kepala KKP Soekarno-Hatta, Oenedo Gumarang, mengatakan petugas kesehatan KKP langsung memberikan pertolongan pertama kepada Yanni Libels yang saat itu sudah tak sadarkan diri. “Berkali-kali kami berusaha membuatnya sadar,” katanya. Namun upaya itu tidak berhasil. Sesaat kemudian Yanni dinyatakan meninggal. “Diduga karena serangan jantung,” kata Oenedo.

Penyanyi Yanni Trio Libels, yang mengembuskan napas terakhir di toilet Bandara Soekarno-Hatta, Rabu, 25 Maret 2015, diketahui tidak menderita sakit saat akan berangkat dari Bandara Depati Amir Pangkalpinang. Yanni, yang menumpang pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 071 pukul 08.20, tadi masih bercengkerama dengan koleganya sesaat sebelum berangkat. Station Manager Sriwijaya Air Pangkalpinang Kian Se mengaku sempat bertemu dengan Yanni Trio Libels saat akan berangkat dan tidak melihat tanda-tanda sakit dalam diri Yanni Trio Libels.

“Terus terang kita kaget mendengar berita ini karena pagi tadi kita masih bercengkerama dan bersalaman. Almarhum juga sempat menitipkan kunci hotel kepada saya,” ujar Kian Se, Rabu, 25 Maret 2015. Kian Se mengatakan Yanni Trio Libels merupakan penumpang terakhir yang naik ke pesawat Sriwijaya Air dan duduk di kursi nomor 29D. “Kalau tidak salah, dia datang hari Senin untuk melayat meninggalnya Bapak Lo Kui Nam, yang merupakan ayah dari Presiden Komisaris Sriwijaya Air Hendri Lie. Selama di Pangkalpinang, ia menginap di Hotel Santika dengan kondisi sehat,” katanya.

Kian Se menyebutkan Yanni Trio Libels sempat mengeluh pusing dan panas-dingin saat tiba di Jakarta. Ia pun masih sempat meminta petugas Bandara untuk memberikan perawatan. “Namun, saat petugas itu membawa petugas medis, Yanni sudah tidak sadarkan diri dan langsung dibawa ke medical Bandara Soekarno-Hatta untuk mendapatkan perawatan. Namun dia tidak bisa diselamatkan,” tuturnya.

Juru bicara keluarga Lo Kui Nam, Ginting Samuel, mengatakan turut berdukacita atas meninggalnya Yanni Trio Libels. Menurut dia, Yanni sangat dekat dengan keluarga Lo Kui Nam dan sering dilibatkan dalam setiap acara Sriwijaya Air. “Kita sangat kehilangan sosok yang sangat dekat dengan kita. Semoga ia ditempatkan di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Dan kepada keluarga Yanni semoga diberikan ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi musibah ini. Atas nama Sriwijaya Air dan keluarga Lo Kui Nam, kita turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya,” ujarnya.

Personel Trio Libels, Yanni Djunaedi alias Yanni Libels, meninggal setelah keluar dari toilet Terminal I Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Rabu, 25 Maret 2015. Kepala Kantor Kesehatan Bandara Soekarno-Hatta Oenedo Gumarang menduga Yanni meninggal akibat serangan jantung. Saat itu, kata dia, Yanni, yang baru mendarat dengan pesawat Sri Wijaya Air rute Pangkal Pinang-Jakarta, langsung masuk ke dalam toilet. “Keluar dari toilet, dia langsung tumbang,” ujar Oenedo.

Menurut Oenedo, saat itu Yanni sempat mengambil kopernya yang diletakkan di tempat penitipan tas di depan toilet. Saat terjatuh, Yanni langsung ditolong petugas kebersihan. “Petugas kami datang dan segera memberikan pertolongan pertama,” ucapnya. Dokter Bandara Soetta, Sita, dan petugas kesehatan berupaya memberikan pertolongan sesuai dengan standar operasional prosedur penanganan penyakit serangan jantung. Tapi upaya tersebut tak bisa menyelamatkan nyawa Yanni. “Nyawanya tak tertolong dan dinyatakan meninggal,” tuturnya.

Kabar duka kembali menyelimuti dunia hiburan Indonesia. Yanni Libels, anggota Trio Libels, dikabarkan meninggal pagi tadi, Rabu, 25 Maret 2015. Kabar ini cukup mengagetkan karena Yanni masih sempat menulis pesan pada akun Facebook-nya, tepatnya empat jam yang lalu. Ia menulis, “On Board With Sriwijaya air. Bismillah.— travelling to Tangerang from Depati Amir Airport”. Masih ada teman yang sempat menggodanya. “Ole-ole jangan lupa ya,” tulis Marina. Setelah komentar itu, komentar duka pun berdatangan dari semua temannya.

Sehari sebelum terbang, Yanni juga sempat menuliskan perenungannya tentang hidup. “Saya pikir, hidup itu harus banyak meminta ~ ternyata harus banyak memberi. Saya pikir, sayalah orang yang paling hebat ~ ternyata ada langit di atas langit. Saya pikir, kegagalan itu final ~ ternyata hanya sukses yang tertunda. Saya pikir, sukses itu harus kerja keras ~ ternyata kerja cerdas. Saya pikir, kunci surga ada di langit ~ ternyata ada di hatiku. Saya pikir, Tuhan selalu mengabulkan setiap permintaan ~ ternyata Tuhan hanya memberikan yang kita perlukan,” tulis Yanni.

“Saya pikir, yang paling berharga itu uang dan kekuasaan, emas, permata ternyata bukan juga, yang paling penting dan paling mahal itu kesehatan dan nama baik,” Yanni melanjutkan. Pesan Yanni tersebut dibalas oleh rekannya, Ronnie Sianturi, “Amin ma Yanni, have a good day.” “Amin bang Ronnie Sianturi, makasih ya. Have a good day too, GBU,” balas Yanni. Satu personel Trio Libels, Yanni Libels, dikabarkan meninggal dunia pada hari ini, Rabu, 25 Maret 2015.

Kabar duka ini beredar luas melalui broadcast BlackBerry Messenger dan jejaring sosial. “Berita duka: Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, telah meninggal dunia sahabat kita, Yanni Libels, hari Rabu, 25 Maret, jam 09.45 WIB. Mari kita doakan semoga amal dan ibadah almarhum diterima Allah SWT. Amin,” cuit akun Twitter teman Yanni Libels.

Para sahabat dan rekan-rekan Yanni merasa kehilangan. Seorang teman Yanni mengunggah status terakhir penyanyi itu di Facebook. Di akun Facebook-nya, Yanni menulis: “On board with Sriwijaya Air. Bismillah traveling to Tangerang from Depati Amir Airport.” Status itu ditulisnya empat jam yang lalu. “Ya ampun, baru juga buat status kok dapat berita sudah meninggal,” tulis salah satu akun Facebook pada kolom komentar status tersebut.

Sebelumnya, Yanni menulis: “Ini bukan nasehat saya pikir…saya pikir hidup harus banyak meminta, ternyata harus banyak memberi”.