Maylaffayza Diantara Batik dan Biola


Violinis Maylaffayza selalu berusaha menyeimbangkan perannya di antara kehidupan akademis di Jurusan Classical Performance, Conservatory of Music, Universitas Pelita Harapan, di Tangerang, Banten, dengan profesinya di industri kreatif. Pekan lalu, dia menjadi pengisi acara Festival Fashion Kain Indonesia, di Jakarta.

Perempuan yang sudah 16 tahun berkarier sebagai violinis ini terpilih menjadi salah satu muse karya perancang Barli Asmara. Dalam dunia mode, muse merupakan istilah yang dipakai perancang terhadap individu yang dianggap mewakili inspirasi karyanya.

Dalam kesempatan peragaan busana Floral Wonderland oleh Barli Asmara, Fayza mengenakan batik motif bunga dari Yogyakarta yang berwarna-warni. Di acara yang merupakan bagian FimelaFest ini, Fayza mengiringi peragaan busana dengan permainan biola.

“Saya sangat bersyukur. Barli Asmara adalah seorang perancang yang karya dan etika kerjanya saya kagumi sejak lama. Sebuah kehormatan bagi saya untuk mengangkat budaya dan perancang Indonesia lewat penampilan musikal saya,” kata Fayza.

Ini bukan penampilan pertama perempuan itu di panggung peragaan busana. “Untuk fashion show, saya sudah sering terlibat, tampil sebagai pemain biola karena di situlah kekuatan saya. Pelaku seni perlu saling mendukung dan berkolaborasi pada ranah industri kreatif,” katanya.

Terkait batik, Fayza sering mengenakan batik untuk menunjang penampilannya agar semakin menarik. Itu kerap menjadi pilihannya saat menghadiri acara keluarga, kampus, sampai tampil di atas panggung, termasuk di luar negeri. Pemain biola Maylaffayza (37) kembali lagi ke bangku kuliah setelah awal tahun ini menyelesaikan pendidikan S-2 Jurusan Creative Media Enterprise di International Design Institute, Jakarta. Tak segan belajar dengan mahasiswa yang lebih muda, ia memilih Jurusan Music Performance Universitas Pelita Harapan.

Tanpa ragu Fayza mengikuti semua proses orientasi sebagai mahasiswa baru. “Saya mengikuti tata tertib peraturan mahasiswa baru dengan berbagai kegiatannya. Beberapa dosennya teman saya di industri musik,” ujarnya. Pilihan istri Yasha Chatab untuk kembali ke bangku kuliah program S-1 di Universitas Pelita Harapan ini tentunya mengejutkan teman-teman sekelasnya yang rata-rata berusia 18 tahun.

“Walaupun profesi saya adalah pop violinist, bagi saya penting untuk menggali ilmu dan teknik musik klasik lebih mendalam. Mudah-mudahan saya bisa mengembangkan musik klasik nantinya,” katanya. Sebagai pemain biola, Fayza berharap bisa memiliki ilmu lebih banyak dengan menempuh pendidikan formal. Ia menambahkan, dengan kuliah formal, dirinya ingin menggali semua akar permasalahan seputar dunia musik.

“Musik adalah bidang yang serius, memerlukan intelektualitas, talenta, dedikasi, dan nalar yang tinggi. Selama kuliah, saya akan mengobservasi mahasiswa, dosen, dan institusi,” ujar Fayza yang sekitar 13 tahun berkarier sebagai musisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s