Category Archives: Seniman

Kursus Makeup Glamour Party Workshop Sehari with Reza Azru

Glamour Party Make Up Workshop dan Kursus sehari bersama Makeup Artist Reza Azru

Glamour Party Make up Workshop with Reza Azru

Bagaimana mendapatkan hasil makeup yang glamour untuk ke pesta tanpa terlihat medok. Dibimbing secara ekslusif oleh Reza Azru. Tempat terbatas hanya untuk 30 Orang. Tempat duduk berdasarkan nomor pendaftaran.

Materi : Blending Foundation, Contouring, Perfect Brows, Bleding Eye Shadow, Lipstick Application.

Peserta wajib membawa model sendiri, makeup tool dan bulu mata.

Kursus seminar workshop diadakan di Jakarta Design Center – Slipi Lantai 6, Lotus 3 pada hari Jumat, 23 September 2016 (09:00 – 17:00)

Rina Mubal Arum Go Internasional Dengan Buka Butik Di Bangkok

Menjadi seorang perancang busana tentu saja memiliki konsep pakaian yang berbeda-beda, basically sesuai dengan kemampuan mereka. Ya seperti salah satu desainer Indonesia, Rina Mubal Arum, yang menyukai rancangan evening dress dan cocktail. Memang tak mudah merancang evening dress dan cocktail, dibutuhkan banyak inspirasi untuk menghasilkan beberapa busana yang berbeda-beda. Sehingga orang yang memakainya pun terlihat cantik dan anggun. Itulah tujuan dari Rina Mubal Arum.

11189657_827160267366213_1648815802_n

“Rancanganku simple, tidak berlebihan tapi tetap terlihat cantik saat memakainya. Aku main di cutting, jadi yang pakai lebih terlihat slim. Tidak terlalu rame tapi elegan,” tutur Rina saat ditemui pada ajang Indonesia Fashion Week 2015 di JCC Senayan Jakarta Pusat Kamis 26 Februari 2015. Selama dua tahun, wanita bertubuh mungil tersebut membuka butik bukan di Indonesia, tapi justru di Bangkok, Thailand dengan nama label Mubal Arum. Menurut dia, banyak orang Bangkok yang menyukai rancangannya. Sehingga kiprahnya di dunia fashion justru sukses di negeri orang.

11232566_893630850695598_242464371_n

“Butikku ada di Bangkok sejak tahun2012. Baru rencana buka di Indonesia. Di sana fashionnya sangat maju, dan saya akan merambah ke Indonesia. Jadi selama kalau pesan by online biasanya, kita ada tempat juga sih di sini tapi bukan resmi butik,” terangnya. Di Bangkok sendiri, lanjutnya, ada beberapa selebriti Thailand yang memakai baju saya. Mereka suka dengan rancangan saya. Kalau di Indonesia kemarin Tika Ramlan pesan baju sama saya.

11247025_828883993859529_1976062989_n

Tak hanya itu saja keberanian Rina, ciri khas dari desainnya pun terlihat pada pemakaian warna yang cerah. Baginya, siapa saja bisa memakai gaun rancangannya. Itulah salah satu hal yang membedakan dari rancangan Rina. “Kalo untuk warna, selalu di warna cirinya. Aku selalu pilih yang ngejreng, aku mau bikin yang beda. Evening dress tidak harus warna gelap, kita harus percaya diri dengan warna terang agar cantik. Jadi tak hanya kulit putih saja yang berani memakai warna cerah, kulit yang cokelat atau sawo matang pun bagus memakai warna ngejreng,” ujar Rina.

“Itu karena belum dicoba aja, orang Indonesia merasa ga pede. Kalo opini saya, dengan warna cerah bisa menambah percaya diri,” tambahnya. Bila Anda ingin mencoba warna-warna cerah seperti apa kata Rina Mubal Arum, berikut ini tips memakai evening dress atau cocktail saat pergi ke pesta. “Pakai warna cerah tidak masalah, yang penting kita nyaman dengan yang dipakai. Aksesoris jangan berlebihan bila dress banyak payet atau bermotif, gunakan high heels agar terlihat tinggi dan bila dressnya pendek kaki akan terlihat seksi karena terlihat jenjang,” tutupnya.

11098597_707325512709211_1992921104_n

So, Ladies jangan lupa ya tips dari Rina Mubal Arum, bagaimana memakai dress untuk ke pesta agar tidak terlihat berlebihan dan cantik pastinya. Ririn Ekawati baru saja bertemu dengan sahabat lamanya yang juga seorang desainer. Ia adalah Rina Mubal Arum. Mereka bertemu dalam acara Indonesia Fashion Week yang digelar di Jakarta Convention Center, Minggu (1/3). Dalam pertemuan itu, Ririn memakai baju rancangan Rina. Ririn sendiri lah yang memilih baju tersebut. Menurut Rina, baju yang dipakai Ririn saat itu bertema Welcome to My World.

10890942_1532783070336690_988708132_n

 

 

11208208_681967675262126_1590655870_n

 

 

11330794_901155709930741_1791311687_n

Ketika ditanya soal harga baju yang dikenakan Ririn, Rina hanya menjawab, “Kalo masalah harga ada deh, rahasia. Kalo koleksi aku sendiri kan ada cocktail dress sama evening dress, dan itu tergantung desain dan detailnya juga. Harga kisarannya Rp 3.500.000,- sampai Rp 5.000.000,-” ujarnya. “Cukup terjangkau kan, itu untuk harga di Indonesia ya. Kalo di Thailand harganya beda lagi, lebih dari itu. Kalau sama Ririn harganya ya harga temanlah, hahaha…” lanjutnya lagi.

Menurut Rina, ia membuat baju sesuai permintaan saja. “Tapi kebanyakan ketika melihat koleksiku mereka langsung suka dan ngambil baju itu. Paling agak di retouch sedikit kalo semisal agak terbuka mereka minta agak ditutup dikit,” paparnya. Rina juga mengatakan bahwa semua koleksinya dalam Indonesia Fashion Week memang dibawa dari Thailand. Ia pun mengatakan akan segera membuka usahanya di Indonesia agar Ririn sering mampir.

“Iya aku bilang ke dia, masa orang Indonesia cuma di sana aja bukanya. Buka di sini dong…” ujar Ririn.

Denada Dan Jerry Aurum Akhirnya Bercerai

Keputusan penyanyi rap Denada dan sang suami, fotografer Jerry Aurum untuk bercerai ternyata sempat membuat terkejut artis senior yang juga politisi Emilia Contessa. “Tiba-tiba anak saya dateng sudah mantap mau mengajukan gugatan cerai, saya syok dan sedih,” kata ibunda penyanyi rap “Santai Saja” tersebut dalam wawancara di ruang kerjanya, di Kantor DPD RI gedung A lantai 1 Provinsi Jatim, Jakarta Selatan, Senin (29/6/2015).

Pasalnya, Emilia pun pernah mengalami keretakan rumah tangga. Kini putrinya yang baru menikah sekitar tiga tahun itu justru mengalami masalah serupa. Karena itulah, Emilia mengaku cukup memahami perasaan putrinya. “Peristiwa itu menjadi trauma buat saya, saya tahu bagaimana sedihnya berpisah,” ucapnya.

“Ini yang saya selalu nasehati dia, ternyata mereka memutuskan berpisah, dia bilang. ‘Mah gimana caranya’. Kalau memang sudah bulat betul-betul itu pilihan,” tambah Emilia.Walaupun tak ingin terlalu mencampuri urusan rumah tangga anaknya, sebagai ibu, Emilia tetap berusaha memberikan nasehat kepada Denada. Namun, keputusan Denada untuk berpisah sudah bulat.

Segala upaya menurut Emilia sudah dilakukan. “Pandangan saya apabila anak saya ada masalah namanya keluarga mendamaikan, perbaiki, saya tidak menyalahkan siapapun, saya sudah mencoba memberitahu jalan, tapi dia dewasa dan sudah memutuskan dan bisa mempunyai jalan sendiri,” tutur Emilia.

Artis senior Emilia Contessa (57) tak mau menceritakan penyebab perceraian putrinya, Denada, dengan sang suami, fotografer Jerry Aurum. Namun, anggota DPD RI itu memastikan bahwa Jerry sudah tak lagi memiliki rasa untuk Denada. Hal itu disampaikannya dalam wawancara di ruang kerjanya, di Kantor DPD RI Provinsi Jawa Timur, Gedung A Lantai 1, Jakarta Selatan, Senin (29/6/2015).

“Kemarin Jerry dateng dan mereka (Denada dan Jerry) masih sapa hai dan cipika-cipiki karena jerry ngambil anak mau diajak pergi (jalan-jalan). Pas bawa anak pulang, saya tanya, ‘Serius mau cerai?’ Saya tanya, karena kalau masih sayang dan mengharapkan jangan bercerai. Dia bilang, ‘Saya sudah enggak ada rasa’,” tutur Emilia.

Gugatan cerai sudah dilayangkan oleh Denada pada 24 Juni 2015. Emilia berjanji akan terus mendampingi putrinya menjalani proses perceraiannya. Sekarang pun ia menetap di rumah Denada di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

“Dia (Denada) tadinya enggak mau dateng, saya bilang jangan, harus dihadapi. Saya pasti mendampingi, saya berada di samping dia, Dena hanya punya saya. Semenjak Dena menikah, saya tidak pernah tinggal di rumahnya, ini pertama kali saya tinggal di rumahnya,” tuturnya lagi. Mengenai hak asuh anak, menurut Emilia, baik Denada maupun Jerry memutuskan akan dipegang oleh Denada sebagai ibu.

“Anak sudah diomongin, masalah agama sudah dibicarakan, sekolahnya juga. Saya melihat Jerry sangat bertanggung jawab kepada anak. Hak asuh di Dena, tapi kapan saja mau dibawa Jerry silakan, tapi tetap ayahnya harus izin,” ujar Emilia.

Sutradara The Act of Killing Puji Profesionalitas Kru Indonesia

Film ‘The Act of Killing’arahan sutradara Joshua Oppenheimer kembali menarik perhatian ajang penghargaan film kelas dunia. Setelah menang di Berlin, kini film tersebut masuk nominasi Best Documenter Academy Awards ke-86.

Joshua merasa sangat senang segala apresiasi yang didapatkan filmnya selama ini, termasuk dihargai ajang penghargaan sekelas Oscar. Beratnya masa produksi film seolah terbayar karena apresiasi yang diterima, bisa membuka mata dunia tentang isu yang diangkat.

“Ini bukan film yang mudah untuk dibuat, dengan 60 kru Indonesia yang bekerja tiap hari selama 8 tahun, mempertaruhkan keselamatan mereka untuk membuat film ini dengan harapan bisa membuka ruang diskusi secara nasional tentang rezim yang meembentuk pembunuhan masal,” ucap Joshua seperti dilansir The Hollywood Reporter, Jumat (17/1/2014).

‘The Act of Killing’ bercerita tentang situasi pasca Gerakan 30 September 1965 yang kacau dan disebut-sebut telah menghilangkan sekitar sejuta nyawa warga negara. Dalam film direkonstruksi bagaimana pembunuhan terhadap sejumlah anggota Partai Komunis Indonesia dilakukan oleh para pemuda anggota sebuah ormas kepemudaan di Medan. Salah satu eksekutornya adalah Anwar Congo.

Anwar menyatakan memang dia ikut dalam pembantaian itu, tetapi karena kala itu situasinya juga bahaya. Alasannya, saat itu kalau tidak membunuh (PKI), ya terbunuh.

Untuk memperebutkan Oscar, ‘The Act of Killing’ bersaing dengan film dokumenter lainnya berjudul ‘Cutie and the Boxer’, ‘Dirty Wars’, ‘Dirty Wars’, dan ’20 Feet from Stardom.’ Film ini sebelumnya menang di kategori Panorama Audience Award seksi film dokumenter Festival Film Berlin. Film itu juga telah diputar di Festival Film Toronto.

Hany Abu-Assad Sutradara Palestina Yang Raih Dua Kali Nominasi Oscar

Sutradara Hany Abu-Assad menerima nominasi Oscar untuk kategori Best Foreign-Language lewat film yang mengangkat tema Palestina berjudul ‘Omar’. Ini adalah film kedua Abu-Assad yang masuk Academy Awards setelah ‘Paradise Now’ pada 2006 lalu.

‘Omar’ yang mengambil set di West Bank, bercerita tentang pria Palestina yang terjebak dalam kekerasan di sekitarnya. Ia ditahan Israel, dan diminta untuk mengkhianati sahabat kecilnya.

Abu-Assad yang lahir di Nazareth, berimigrasi ke Belanda pada 1980. Namun ia menunjukkan identitasnya sebagai orang Palestina, yang kemudian memicu perdebatan di Israel.

Pada 2006, film ‘Paradise Now’ yang disutradarainya berhasil memenangkan Piala Golden Globe untuk kategori Best Foreign-Language. Film itu diangkat dari skenario yang ditulisnya bersama produser Belanda Bero Beyer, dan bercerita tentang 48 jam menegangkan sebelum dua orang sahabat dikirim ke Israel untuk misi bunuh diri.

Meski menang Golden Globe, namun Abu-Assad gagal mengulang kesuksesannya di Oscar saat itu. Filmnya kalah dari perwakian Afrika Selatan, ‘Tsotsi’, bercerita tentang kehidupan anak jalanan.

‘Omar’ adalah film perdana Abu-Assad yang mendapat dukungan penuh dari industri film Palestina. Fim ini juga sempat melakukan penawaran di Cannes Film Festival dan memenangkan Jury Prize.

Untuk mendapatkan Oscar, ‘Omar’ harus mengalahkan pesaingnya ‘The Broken Circle Breakdown’ (Belgia) arahan sutradara Felix Van Groeningen yang bercerita tentang pasangan yang memiliki putri penderita kanker, ‘Great Beauty’ (Italia), ‘The Hunt from Thomas Vinterberg’ (Denmark), Kamboja (The Missing Picture from Rithy Panh), serta Un Certain Regard.

Ciri Ciri Busana Karya Perancang Adesagi Kierana Yang Sering Dipakai Selebriti

Di kalangan desainer, Adesagi Kierana dikenal sebagai desainer yang teliti masalah detail busana. Inilah yang jadi ciri khas busana berlabel Adesagi Kierana dan Desagi Kierana.

Salah satu perancang busana Tanah Air, Taruna K. Kusmayadi, dengan gamblang menceritakan karya-karya Adesagi, meski tak kenal secara personal. Hasil karyanya terkonsentrasi pada dress dengan main detail, misalnya origami dan bordir. “Baju-baju karyanya itu pakai dalaman sehingga bagian pinggul ke lutut agak menggelembung,” kata Taruna kepada Tempo saat dihubungi, Selasa, 3 Januari 2012.

Menurut Taruna, ketelitian Adesagi bermain detail busana inilah yang membuatnya banyak disukai para wanita muda. “Enggak pasaran dan main alternatif,” kata Ketua Umum Pusat Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) itu.

Adesagi bukan orang baru di jagat mode Indonesia. Pria berusia 34 tahun itu sudah menjadi perancang sejak tujuh tahun silam. Kemungkinan mulai dikenal setelah masuk IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia) sekitar dua tahun terakhir. “Sejak itu saya kira promosi dan show-nya terencana dan banyak diberitakan di koran dan majalah,” tuturnya.

Karena tak terlalu dekat dan beda organisasi, Taruna jarang bertemu dengan Adesagi. “Dia orangnya pendiam dan suka senyum,” kata Taruna, yang bertemu terakhir dengan mendiang Adesagi di Jakarta Festival Week tahun lalu.

Adesagi ditemukan tak bernyawa di kamar mandi rumah di belakang Gedung Sate Bandung, Jalan Cimandiri 28 A Bandung, Jawa Barat, Minggu, 1 Januari 2012. Ia ditemukan dalam kondisi bugil bersama temannya, Randi Yana Putra, 31 tahun.

Randy Yana Putera yang ditemukan tewas bersama desainer Adesagi Kierana adalah manajer butik The Upper East di lantai UG Grand Indonesia. Di mata karyawannya, Randy dikenal sebagai bos yang baik. Ini cerita Novi dan Icha, pegawai yang sedang menjaga butik, saat Tempo berkunjung ke sana, Selasa, 3 Januari 2012. “Hampir tiap hari dia datang untuk mengontrol,” kata Novi kepada Tempo.

Gadis ini mengaku kurang begitu mengenal Randy secara personal karena hubungannya dengan sang majikan hanya sebatas antara atasan dan bawahan. Sewaktu pemakaman Randy, Novi tidak datang melayat. Ia juga belum mengetahui orang yang bakal menggantikan posisi Randy di butik itu.

“Dia orang yang baik,” kata Icha, karyawan lain di butik itu. Meski begitu, mereka tidak mengetahui kehidupan pribadi Randy, termasuk hubungannya dengan desainer Adesagi.

Menurut Rifai, petugas kebersihan mal, Randy sering terlihat bersama dengan seorang teman wanita yang berkulit putih dan berpenampilan seperti model. “Wanita itu sering datang ke butik bersama Randy,” ujarnya.

Selama satu setengah jam Tempo melihat-lihat busana-busana yang terpajang di butik The Upper East, sebuah butik mewah yang hanya menyediakan busana wanita. Harga baju di sana rata-rata lebih dari Rp 2 juta, di antaranya bermerek Niccole Miller, Sjobeck, dan Robert Rodriguez. “Banyak kalangan artis dan sosialita yang berbelanja di sini,” kata Icha tanpa mau merinci siapa saja artis-artis tersebut.

Maylaffayza Melarikan Diri Ke Singapura

Pemain biola Maylaffayza (34) sangat serius dengan hobi larinya. Sabtu (30/4), ia mengikuti Singapore Night Trail yang digelar malam hari. Dari negeri tetangga, Fayza berkabar, lomba itu menempuh jarak 6 kilometer. Tak main-main, semua peserta menempuh lintasan tidak rata dan berbukit.

”Saya sendiri nervous sekaligus excited memikirkan lomba ini,” tutur Fayza. Apalagi, kemudian ia tahu bahwa lomba ini diikuti oleh banyak pelari profesional dari berbagai negara. ”Kalau menang, sih, enggak mungkin. Saya hanya mau membuktikan ke diri saya dan mengatakan, ’saya bisa!’,” kata Fayza.

Pemusik yang selalu tampil cantik ini mulai berlari sejak tahun 2009. ”Awalnya saya benci lari karena identik dengan hukuman. Dahulu selalu hampir pingsan kalau lari…,” tuturnya. Ketika ia membaca memoar novelis Jepang, Haruki Murakami, yang memulai hobi lari pada usia cukup tua, Fayza tergugah dan mulai mencoba.

Kini saban Minggu pagi, Fayza bersama komunitas Indo Runners selalu berlari di kisaran Jalan Sudirman, Jakarta. ”Ikutan lari, yuk. Saya sendiri pelari paling pelan,” ujar Fayza.

Ayo, kita berlari sambil menggesek biola, bisa enggak… He-he-he.