Category Archives: Super Model

Kaia Anak Supermodel Cindy Crawford Kini Ikut Jejak Ibunya Menjadi Supermodel

Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Inilah yang terjadi pada model Cindy Crawford. Kaia, anak perempuannya, kini mengikuti jejaknya menjadi model di usianya yang belum genap 11 tahun.

Di depan kamera, Kaia tampak luwes bergaya. Ia berpose untuk iklan Young Versace, lini baru dari merek fashion dunia Versace.

Cindy, saat diwawancara wartawan, tak bisa menutupi kegembiraannya. “Saya sangat senang bahwa Kaia dipilih untuk menjadi bagian dari kampanye pertama kali Young Versace,” kata Crawford. “Saya punya kenangan indah begitu banyak dengan Gianni dan Donatella.”

Crawfordmenemani putrinya selama pemotretan, yang isebutnya sebagai “pengalaman yang fantastis.”

Donatella Versace, direktur kreatif perusahaan itu, menyatakan Kaia memiliki ‘sihir’ pemodelan ibunya. “Seperti ibunya, Kaia memiliki sesuatu yang sangat spesial. Kamera benar-benar mencintainya,” katanya.

Darah model Kaia menetes dari ayah ibunya. Sang ayah, Rande Gerber, juga mantan model.

Kaia bukan keturunan model pertama untuk mengikuti jejak ibunya. Sebelumnya, beberapa anak model juga menjadi model, di antaranya Georgia Mei Jagger, putri mantan model Jerry Hall dan Mick Jagger; Bria Murphy, putri model Nicole Murphy dan mantan suaminya Eddie Murphy, dan Mia Tyler, putri dari model Cyrinda Foxe dan Steven Tyler.

Ratu Kecantikan Venezuela Tersandung Krisis Korea

CARACAS, tribunkaltim.co.id – Mantan Miss Universe dari Venezuela Alicia Machado menutup akun Twitternya setelah dicemooh karena ia tak bisa membedakan kedua Korea dengan China.

Peraih gelar ratu kecantikan 1996 tersebut, yang prihatin atas serangan artileri Korea Utara ke satu pulau Korea Selatan, ceroboh ketika mentweet perdamaian dunia melalui akunya, @aliciamachado77.

“Malam ini aku mau mengajak kalian bergabung dengan aku dalam doa bagi perdamaian, bahwa semua serangan ini di antara negara-negara China tak membuat situasi kalian jadi buruk,” tulis Alicia pada Selasa larut malam.

Kekeliruannya memicu banyak posting yang bersifat menghina, sehingga Alicia menutup akunnya.

“Aku sekarang menghadapi banyak psikopat di akunku dan lebih baik aku memulai akun lain, salam,” Alicia pun menghilang dari Twitter, demikian laporan media Venezuela.

Alicia Machado sudah tak asing menghadapi reaksi yang tak menyenangkan.

Ia memicu kehebohan di media karena beratnya bertambah 10 kilogram setelah kemenangannya pada 1996 dan presiden penyelenggara Miss Universe Donald Trump menyebut dia “mesin tukang makan”.

 

SHAKIRA Terus Beramal

Bintang pop Latin kelahiran Kolombia, Shakira (33), kembali menggelar aksi menggalang dana selama libur akhir pekan lalu. Aksinya itu dilakukan setelah dia membintangi iklan televisi untuk sebuah perusahaan minuman (anggur) demi mendapatkan donasi bagi kegiatan amal yang dia lakukan.

Penyanyi yang pekan lalu mendapat penghargaan sebagai Favourite Latin Music Artist di ajang American Music Awards (AMAs) ini shooting iklan di Barcelona, Italia, akhir pekan lalu. Dia mengaku mau mengambil pekerjaan itu setelah para petinggi di perusahaan tersebut menyumbang 500.000 euro atau sekitar 660.000 dollar AS untuk organisasi yang dikelolanya, Pies Descalzos.

Uang dari hasil penggalangan dana itu akan digunakan untuk membangun sebuah sekolah di Haiti dan sekolah lainnya di negara kelahirannya, Kolombia. Di negara asalnya itu, Pies Descalzos telah membangun enam sekolah.

”Pendidikan adalah hak asasi bagi setiap manusia dan pendidikan yang berkualitas adalah satu-satunya alat yang harus dimiliki seorang anak untuk mewujudkan impiannya menjadi kenyataan. Sejak masih kanak-kanak, aku sudah disadarkan pada kenyataan kelam yang harus dihadapi oleh banyak anak-anak,” kata pelantun lagu Hips Don’t Lie dan She Wolf ini.

 

Karir Naomi Campbell Makin Cemerlang dan Kontroversial

Naomi Campbell (40) bicara tentang kariernya yang cemerlang sekaligus kontroversial selama 25 tahun di dunia model. Campbell yang asal Inggris ini ditemukan pencari bakat pada usia 15 tahun. Setahun kemudian dia muncul di sampul majalah Elle.

Setelah kemunculannya itu, Campbell mendominasi berbagai peragaan busana dan menjadi bagian dari gadis-gadis model, seperti Linda Evangelista, Christy Turlington, Cindy Crawford, Claudia Schiffer, dan Helena Christensen, yang disebut sebagai supermodel. ”Tapi, tidak ada satu pun dari kami yang peduli dengan sebutan supermodel. Itu hanya sebuah kata yang dipakai wartawan tanpa alasan jelas,” kata Campbell.

Dia mengatakan, kesetiaannya kepada para desainer membuat dia diperhitungkan di peta mode. Meski begitu, Campbell kerap dilabeli sebagai seorang diva karena sering datang terlambat untuk pemotretan dan suka melempar jika sedang emosi.

Namun, Campbell mengatakan bahwa hal itu menjadi tantangan baginya. Dia selalu berusaha belajar dari kesalahannya.

”Aku memang kontroversial. Itu bukan rahasia lagi. Tapi, bila orang ingin bekerja denganku, mereka akan berusaha bekerja sama denganku. Kalau tidak, ya tidak,” kata Campbell yang ingin menjalani hidupnya dengan tenang pada usia tua nanti.

Kate Moss Percaya Hal Hal Gaib

Model Kate Moss (36) ternyata percaya juga dengan hal-hal yang bersifat supranatural. Atas dorongan tunangannya, Jamie Hince, ia menyetujui menyewa dukun pengusir roh jahat untuk membersihkan rumahnya dari energi negatif.

Mereka percaya, ada sesuatu, yang mereka percayai sebagai energi jahat, melingkupi rumah itu. Beberapa kali ketidakberuntungan menimpa keluarga Kate Moss saat berada di rumahnya di London, Inggris.

Seperti dikutip surat kabar The Sun, Jamie Hince percaya soal supranatural. Dialah yang menjelaskan kepada Moss bahwa ada energi jahat di rumah itu. Energi jahat itu harus disingkirkan oleh pengusir roh profesional.

”Akhirnya, Moss setuju untuk digelar upacara pembersihan rumahnya,” begitu perwakilan Moss mengungkapkan.

Mei lalu, ada pencuri menyusup ke rumah dan mengambil lukisan kesayangan Moss. Lukisan itu berharga mahal. Beberapa hari kemudian, kembali rumah Moss dilanda apes. Banjir datang dan menggenangi lantai bawah rumahnya. Padahal, sebelumnya hal itu tak pernah terjadi.

”Kotoran ada di mana-mana,” kata Moss.

Walau apes dengan rumahnya, karier Moss tetap menanjak. Mendekati usia 40 tahun, ia masih populer. September nanti, ia menjadi model sampul yang menghiasi majalah fashion Vogue sebanyak 30 kali.

Gisele Bündchen Model Terkaya Yang Ingin Punya Banyak Anak

Gisele Bündchen (29) mengungkapkan keinginannya punya anak lagi. Supermodel asal Brasil ini berkata, Benjamin (4 bulan), anak hasil pernikahannya dengan pemain American football, Tom Brady, telah memperkaya hidupnya hingga membuat dia ingin punya anak lagi. Ia tak peduli bila kehamilan membuat bentuk tubuhnya berubah.

”Aku ingin punya banyak anak. Tak apa-apa tubuhku berubah. Memiliki anak itu menakjubkan,” ujarnya.

Sejak Benjamin lahir, prioritas Bündchen berubah. Meski tetap fokus pada karier di dunia model, membesarkan anak menjadi prioritas utamanya.

”Aku tak mengakhiri karierku sebagai model. Aku hanya mengurangi kegiatan karena ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan anakku,” katanya.

”Benjamin adalah hal paling berharga bagiku. Dia sungguh luar biasa,” ujar Bündchen.

”Apa yang kuinginkan dalam hidup adalah menjadi ibu yang baik. Aku akan mengajarinya nilai-nilai baik, hal yang penting diberikan seorang ibu kepada anaknya,” katanya kepada majalah Hello!.

Meski berkonsentrasi menjadi ibu, nyatanya Bündchen tetap menduduki posisi tertinggi sebagai supermodel berpenghasilan tertinggi versi Forbes.com. Tahun lalu penghasilannya 25 juta dollar AS, mengalahkan Heidi Klum dan Kate Moss.

Andeisha Farid, Ibu Asuh Anak Afganistan Dengan Banyak Panti Asuhan

Kenangan tinggal di kamp pengungsian semasa kecil membekas kuat di ingatan Andeisha Farid. Pengalaman buruk itu membuat dia bertekad melindungi anak-anak yatim piatu Afganistan agar mereka tak hidup dalam penderitaan.

Berkat ketulusan dan kerja kerasnya, Andeisha bisa membangun satu demi satu rumah yatim piatu, hingga kini ia mengelola 10 rumah yatim piatu dengan jumlah anak lebih dari 450 orang. Maka, Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyebut nama dia dari ratusan peserta Konferensi Tingkat Tinggi Kewirausahaan di Washington DC, akhir April 2010.

Dia adalah satu dari lima pemenang Penghargaan Kepemimpinan Global (Global Leadership Awards 2010), yang diadakan lembaga nonprofit Vital Voices Global Partnership, AS.

Dalam situs Vital Voices diuraikan pengalaman masa kecil Andeisha. Kehidupannya yang semula cukup nyaman sebagai putri perwira menengah angkatan darat langsung goyah saat Soviet menduduki negerinya pada 1980-an.

Pendudukan Soviet itu, bagi ayah Andeisha, merupakan ancaman serius bagi hidup keluarganya. Andeisha kecil bersama keluarganya lalu meninggalkan kota kecil Farah, barat daya Afganistan. Mereka mengungsi ke Iran pada pertengahan 1980-an.

Keluarga yang terdiri dari bapak, ibu, dan enam anak itu mencapai perbatasan Afganistan-Iran dan tinggal di kamp pengungsi di Iran tanpa air bersih, akses ke perawatan medis, dan sekolah. Lokasi pengungsian itu terpencil. Jarak ke kota terdekat dua jam perjalanan dengan bus.

Tahun 1992 kondisi kehidupan di kamp pengungsian itu kian buruk. Ayah Andeisha menyadari, mereka tak punya pilihan selain kembali ke Farah. Keputusan itu ternyata kurang tepat karena kudeta dan pembunuhan tengah marak di Afganistan.

Kontrol menyeluruh Taliban telah mengubah negeri itu menjadi mimpi buruk, seperti pemerkosaan, penculikan, pembunuhan, dan represi. Keluar dari Afganistan adalah satu-satunya peluang untuk bertahan hidup. Setelah mencoba bertahan selama enam bulan di Farah, keluarga ini bersama ribuan warga lainnya kembali mengungsi ke Pakistan.

Tak pernah normal

Di kamp pengungsian Pakistan, kehidupan mereka membaik. Pada usia 9 tahun, Andeisha dan saudara-saudaranya bisa kembali bersekolah. Dia bahkan lulus akademi, lalu menikah dengan sesama pengungsi. Mereka dikaruniai seorang putra dan berusaha menikmati hidup normal di pengungsian.

”Akan tetapi, hidup sebagai pengungsi itu tak pernah normal,” tegasnya. Karena itu, cita- cita dia sudah bulat, memberikan kehidupan yang lebih baik kepada anak-anak Afganistan.

”Saya tahu apa yang harus dilakukan. Saya memulai dengan menjadi tutor di sebuah sekolah lokal. Setelah kuliah di universitas di Islamabad, saya bekerja sebagai guru di sekolah lokal Afganistan. Saya membantu mengumpulkan makanan yang dibutuhkan anak-anak. Banyak di antara mereka dibiarkan yatim piatu dan mengais apa yang bisa ditemukan di tong sampah,” paparnya.

Andeisha berusaha mengetuk hati orang-orang yang ditemuinya agar memberikan sumbangan guna kehidupan anak-anak itu. Bantuan datang dari lembaga derma AS, Charity Help International (CHI).

Setelah rezim Taliban ditumbangkan pasukan multinasional pimpinan AS, Andeisha bergabung dengan Organisasi Perawatan dan Pendidikan Anak Afgan (Afceco) yang berbasis di Kabul pada 2007. Sebelum itu, lewat Program Sponsor Anak (CSP) yang diluncurkan Afceco bersama CHI, akhir 2004 hingga kini lebih dari 300 anak mendapat sponsor dari warga lain di dunia.

Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton yang membidani berdirinya Vital Voices semasa menjadi Ibu Negara AS menegaskan, kehidupan sebagai pengungsi yang dialami Andeisha tak berarti hancurnya masa depan. Dengan bekal pendidikan yang dia peroleh, Andeisha membuktikan bahwa dia bisa menjadi manusia yang mumpuni.

Masa depan kelam

Andeisha menyadari, jalan untuk masa depan bagi anak-anak di negerinya relatif kelam. Anak-anak Afganistan tak hanya menghadapi kejinya perang dan gangguan aksi terorisme, tetapi juga godaan untuk masuk dunia mafia obat-obatan terlarang demi uang dan sedikit kenikmatan hidup. Melalui Afceco, dia berusaha menemukan solusi kreatif mengatasi berbagai peninggalan perang.

Jim Luce dalam tulisannya di Huffington Post untuk menghormati Andeisha menguraikan, badan dunia untuk urusan anak- anak, Unicef, memberikan data yang memilukan mengenai nasib anak-anak Afganistan yang hidup dalam bayang-bayang ketakutan perang.

Sebanyak 60 persen anak Afganistan kehilangan sekurangnya satu anggota keluarga atau keluarga terdekatnya, 35 persen dari mereka telah kehilangan satu orangtua. Lebih dari 600.000 anak terpaksa tidur di jalan-jalan karena tak punya rumah. Untuk setiap 50.000 dari mereka, hanya tersedia seorang dokter. Dan, dari 200.000 warga yang mengalami cacat di Afganistan, setengahnya adalah anak-anak.

Sebagai seorang bekas pengungsi, Andeisha memahami satu hal. Setiap pengungsi harus bisa kembali merasakan ”rumah”. Maka, Andeisha pun membangun panti asuhan untuk menampung anak-anak telantar.

”Pertama, kita harus memberikan anak-anak itu rumah yang aman. Sekarang kami juga membangun komponen program sekolah yang kuat,” ungkapnya.

Meski kondisi di negerinya belum menunjukkan tanda-tanda pulih, khususnya di bidang keamanan, Andeisha menyatakan dirinya tidak takut. Keberanian itu pulalah yang dia tanamkan kepada anak-anaknya selain ajaran untuk hidup damai, menyayangi, toleran, dan bersahabat dengan lingkungan sekelilingnya.

”Saya punya banyak harapan. Saya harus optimis bahwa kita bisa menciptakan sebuah masa depan yang bahagia bagi anak-anak. Kami harus melihat jauh ke depan karena kami tidak punya pilihan lain,” ujarnya.

Andeisha ingin anak lelakinya yang berusia 4 tahun, dan anak-anak Afgan lainnya, merasakan bahwa mereka tidak perlu takut untuk membayangkan Afganistan dengan berbagai kemungkinan dan peluangnya.

”Itulah mimpi saya untuk mereka dan kita semua,” paparnya.
ANDEISHA FARID

• Lahir di Farah, Afganistan, 26 tahun lalu

• Selama 20 tahun tinggal di kamp-kamp pengungsian

• Pendiri sekaligus direktur eksekutif lembaga nirlaba Afghan Child Education and Care Organization (Afceco), 2007

• Mengelola 10 panti asuhan yang merawat lebih dari 450 anak

• Salah satu dari lima penerima penghargaan Global Leadership Awards 2010 dari lembaga nirlaba Vital Voices, AS, 2010

• Menguasai bahasa Dari, Inggris, Pastho, dan Urdu